MUHASABAH

Bantuan yang Selalu Datang Setelah Air Surut

Oleh: Muhibbullah Azfa Manik*

Bencana alam di Sumatra hampir selalu bergerak dengan pola yang sama. Hujan turun berhari-hari, sungai meluap, lereng bukit runtuh, dan ribuan warga terpaksa mengungsi. Namun ada satu babak lain yang tak kalah menentukan—dan nyaris selalu terlambat—yakni logistik kemanusiaan.

Bantuan memang datang, tetapi sering kali setelah air surut, setelah lumpur mengering, dan setelah warga belajar bertahan dengan apa yang tersisa.

Di Aceh Tenggara, awal tahun lalu, banjir bandang memutus akses jalan ke sejumlah desa di sepanjang Daerah Aliran Sungai Lawe Alas. Selama dua hari pertama, warga mengandalkan persediaan dapur seadanya dan bantuan antar-tetangga. Beras dan mi instan baru tiba ketika genangan mulai menyusut.

“Yang paling dibutuhkan itu air bersih dan obat-obatan, tapi datang belakangan,” kata seorang relawan lokal yang sejak hari pertama membantu evakuasi.

Pola serupa berulang di Sumatra Utara. Saat longsor menutup jalan lintas di kawasan Humbang Hasundutan, distribusi logistik terhambat berjam-jam, bahkan berhari-hari. Bantuan menumpuk di pos kecamatan, sementara desa-desa di balik perbukitan terisolasi. Warga di pengungsian bertahan dengan ubi rebus dan sayur dari ladang sekitar. Negara, sekali lagi, datang menyusul.

Sistem yang Baru Bergerak Setelah Kejadian

Dalam hampir semua bencana di Sumatra, fase paling krusial justru terjadi pada 72 jam pertama. Pada periode inilah pangan, air bersih, obat-obatan, dan tenda darurat seharusnya tiba. Kenyataannya, sistem logistik baru bergerak setelah status tanggap darurat ditetapkan dan surat-surat administrasi beredar.

Di Sumatra Barat, banjir bandang yang menerjang kawasan Pesisir Selatan beberapa waktu lalu memperlihatkan betapa lambannya sistem ini. Relawan lokal sudah membuka dapur umum sejak malam pertama, memanfaatkan stok pribadi dan sumbangan warga. Bantuan resmi datang belakangan—lengkap, tetapi terlambat untuk fase paling kritis.

Sejumlah anak-anak pengungsi menerima mainan di posko pengungsian Kuala Simpang, Aceh Tamiang, Aceh, Jumat (12/12/2025). (FOTO: ANTARA)

Prosedur administrasi, koordinasi lintas lembaga, dan pelaporan berjenjang memakan waktu. Sementara itu, kebutuhan di lapangan tak mengenal jam kerja. Logistik kemanusiaan seharusnya mengalir seperti darah dalam tubuh. Yang terjadi justru sebaliknya: tersumbat di simpul-simpul birokrasi.

Medan Sulit Bukan Alasan Tunggal

Bentang geografis Sumatra kerap dijadikan dalih. Pegunungan Bukit Barisan, sungai-sungai besar, dan jarak antardaerah memang menantang. Namun laporan lapangan menunjukkan, hambatan utama bukan semata alam, melainkan lemahnya perencanaan.

Di Aceh Barat Daya, misalnya, jalur utama terputus akibat longsor. Tak ada rencana distribusi alternatif yang siap dijalankan. Perahu karet dan kendaraan off-road baru dikerahkan setelah permintaan berulang. Akibatnya, bantuan menumpuk di satu titik, sementara wilayah lain nyaris tanpa suplai.

Distribusi pun berjalan timpang. Di satu posko, beras dan mi instan berlebih. Di posko lain, air bersih dan selimut justru langka. Logistik hadir, tetapi kehilangan presisi.

1 2Laman berikutnya
Back to top button