Pesan KH Abbas Aula di Pelantikan Pengurus DDII Kota Bogor: Dakwah Harus Dilakukan Bersama dan Istiqamah
Bogor (Suaraislam.id) — Pengurus Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Kota Bogor resmi dilantik di Gedung DPRD Kota Bogor, Sabtu (18/7/2026). Dalam kesempatan tersebut, Ketua Dewan Pertimbangan DDII Kota Bogor, KH Muhammad Abbas Aula, menegaskan bahwa tugas paling mulia sebagai Muslim adalah berdakwah.
Mengawali sambutannya, Kiai Abbas Aula mengutip firman Allah Swt. dalam surat Fussilat ayat 33 tentang siapa yang paling baik ucapannya, yaitu orang yang menyeru kepada Allah, beramal saleh, dan menyatakan diri termasuk golongan kaum Muslimin.
Menurutnya, dakwah tidak hanya dimaknai sebagai ceramah di atas mimbar. Rasulullah saw .berdakwah dengan memberikan teladan nyata dalam kehidupan, menyelesaikan persoalan umat, mendamaikan perselisihan, memimpin peperangan, hingga membangun peradaban. Itulah hakikat dakwah yang sesungguhnya.
“Hari ini kita melantik pengurus Dewan Dakwah. Walaupun lebih terkait dengan urusan organisasi, pada hakikatnya kita semua mempunyai kewajiban sebagai pendakwah,” ujarnya.
Ia mengibaratkan kewajiban berdakwah sebagaimana kewajiban shalat. Apabila tidak mampu melaksanakannya dengan cara yang utama, maka dilakukan dengan cara lain sesuai kemampuan.
“Kewajiban berdakwah seperti kewajiban shalat. Kalau tidak bisa berdiri maka duduk, kalau tidak bisa duduk maka berbaring, tetap harus kita lakukan. Dakwah amar makruf nahi mungkar juga seperti itu. Kita harus berusaha untuk melakukan perubahan. Kalau tidak bisa dengan tangan maka dengan lisan, atau paling tidak memberikan dukungan,” katanya.
Kiai Abbas Aula menjelaskan bahwa dakwah merupakan gerakan perubahan menuju tata nilai kehidupan yang lebih baik dan upaya menghidupkan kembali nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat.
Mengutip Surah Al-Baqarah ayat 257, ia mengatakan bahwa dakwah bertujuan mengajak manusia kepada Islam serta mengeluarkan mereka dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam.
“Dakwah harus mampu mengubah kondisi kehidupan dunia yang gelap menjadi terang benderang. Mengubah tatanan kehidupan jahiliyah, alam kebodohan, kemiskinan, ketertinggalan, dan berbagai persoalan lainnya menuju kehidupan yang sesuai dengan ajaran Islam,” jelasnya.
Ia kemudian menyinggung kisah Ja’far bin Abi Thalib ketika berdialog dengan Raja Najasyi pada peristiwa hijrah pertama ke Habasyah sebagai contoh nyata dakwah yang membawa perubahan besar bagi kehidupan manusia.
Menurutnya, saat ditanya Raja Najasyi tentang ajaran yang dibawa Nabi Muhammad saw, Ja’far bin Abi Thalib menjelaskan bahwa sebelum datangnya Islam, masyarakat Arab hidup dalam masa jahiliah, menyembah berhala, memakan bangkai, melakukan berbagai perbuatan keji, memutus tali silaturahmi, berbuat zalim kepada sesama, dan yang kuat menindas yang lemah.
Kemudian Allah mengutus Rasulullah saw kepada mereka untuk mengajak hanya menyembah Allah, meninggalkan penyembahan kepada berhala, berlaku jujur, menunaikan amanah, menyambung silaturahmi, berbuat baik kepada tetangga, menjauhi perbuatan haram, menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan menjalankan berbagai ajaran Islam.






