Surat Cinta untuk Gus Yaqut
Ada kabar yang banyak ditunggu masyarakat sejak lama, yaitu tentang status mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas di KPK. Lembaga negara ini pada Jumat (09/01) menetapkan Yaqut sebagai tersangka. Yaqut dijadikan tersangka karena adanya dugaan kuat korupsi kuota haji 2024.
Baca: Yaqut: Antara Pendukung dan Pengecamnya
Saya terus terang mengikuti terus kasus itu. Karena antara Yaqut dan saya ada hubungan yang tidak langsung. Tidak mungkin terlupakan oleh saya, ketika tahun 2022 anak buah Yaqut di Depok mengadili saya. NU Depok, Banser Depok, GP Ansor Depok dll mengadili saya di Gedung MUI Depok. Mereka mengancam saya akan dilaporkan polisi, karena saya menulis artikel Istighfarlah Yaqut.
Baca: Ketika Saya ‘Diadili’
Membaca Yaqut dijadikan tersangka KPK ini saya antara sedih dan gembira. Sedih karena saya sebenarnya tidak suka Yaqut dipenjara, saya inginnya dia sadar dan taubat tanpa dipenjara. “Gembira” karena KPK telah membuktikan bahwa Yaqut ada masalah dengan pribadinya.
Yaqut punya kesalahan besar dalam masalah manajemen haji 2024. Yaqut tidak bisa ‘mengerem’ nafsunya terhadap harta. Kesalahan Yaqut ini semoga bisa menyadarkan para pembelanya yang habis-habisan membelanya dan kadang pembelaanya ‘menzalimi’ orang lain.
Memang penetapan KPK terhadap Yaqut ini belum final. Masih ada pengadilan yang akan menetapkan Yaqut bersalah atau tidak. Tapi meski demikian, bila kita ikuti komentar-komentar di media sosial, banyak netizen yang menyatakan bersyukur Yaqut ditetapkan KPK sebagai tersangka.
Saya ingin menyoroti masalah Yaqut ini dari sudut lain. Yaitu dalam berbagai pernyataannya ketika menjadi Menag, Yaqut mengatakan bahwa ia adalah menteri agama-agama, bukan hanya Islam saja. Ini menunjukkan Yaqut kurang teguh keyakinannya terhadap Islam.
Bila Yaqut kuat keimanannya, harusnya ketika menjadi Menteri Agama, ia tunjukkan kehebatan Islam dan mendorong dakwah kepada orang-orang non Islam agar masuk Islam. Mantan Menteri Agama seperti Prof. Rasjidi dan Wahid Hasyim yang teguh dalam membela Islam, mestinya menjadi contoh Yaqut.
Selain itu saya sedih juga ketika Yaqut menyatakan bahwa yang memperjuangkan kemerdekaan itu bukan orang Islam saja, tapi juga orang-orang non Islam. Pernyataan Yaqut ini benar, tetapi harus diingat bahwa mungkin lebih dari 90 persen para pahlawan itu adalah mereka yang beragama Islam. Karena yang menjajah bangsa Indonesia saat itu adalah Belanda dan Jepang yang beragama non Islam.
Gus Yaqut, ingat bahwa nilai-nilai Islam ini harus kita pegang teguh dimanapun kita berada. Ketika kita lupa terhadap nilai itu, kita akan terpeleset kepada nafsu duniawi yang dapat merusak pribadi kita.
Menjadi pejabat memang tidak mudah di negeri ini. Godaan untuk korupsi, menumpuk harta, berzina dan godaan-godaan lainnya ada di sekelilingnya. Banyak pejabat yang terjerumus dalam kasus korupsi atau kasus kriminal lainnya karena tidak kuat menahan godaan itu.
Apa yang bisa mengerem godaan dunia itu? Hanya keimanan. Iman kita kepada Allah dan hari akhir akan mengerem kita untuk berbuat kriminal. Keimanan itu akan mengerem kita, ketika kita mau berbuat jahat. Ketika kita mau ambil harta yang bukan milik kita, maka kita takut. Kita takut nanti Allah akan menghisab kita di hari setelah kematian. Harta yang kamu tumpuk ini asalnya dari mana? Kita bisa disiksa Allah karena menumpuk harta yang haram yang bukan milik kita.
Gus Yaqut saudaraku, ingatlah bahwa hidup ini hanya sementara. Orang tua dan guru-guru kita mengajarkan bahwa Islam ini adalah satu-satunya agama wahyu, satu-satunya agama yang benar. Selain Islam adalah agama yang salah. Selain Islam adalah agama budaya.






