Pengalaman di AS: Mengapa Waktu Puasa Ramadan Berubah Tahun Ini?
Lubna Turaani telah menyusun strategi selama berminggu-minggu. Perawat dan mahasiswa berusia 26 tahun di Virginia itu tahu bahwa ketika Daylight Saving Time (DST) berlaku di tengah Ramadan, rutinitas yang sudah ia susun rapi harus langsung berubah. Ia pun bersiap dengan membatalkan sementara keanggotaan gym dan merencanakan makanan untuk berbuka di paruh pertama bulan. Persiapan seperti ini juga dilakukan oleh jutaan Muslim di Amerika tahun ini.
Ramadan tahun ini dimulai sekitar 17 Februari dan berlangsung hingga pertengahan Maret. Artinya, ketika jam di AS dimajukan satu jam pada 8 Maret, ritme puasa harian akan tiba-tiba bergeser satu jam—mengganggu rutinitas keluarga, pekerja, dan pelajar yang menjalankannya.
Memahami kalender Islam
Kalender Islam bersifat lunar (berdasarkan peredaran bulan), berbeda dengan kalender Gregorian yang berbasis matahari. Imam Farhan Siddiqi dari Dar Al-Hijrah Islamic Center di Virginia menjelaskan bahwa kalender lunar sekitar 10 hari lebih pendek dari kalender matahari, sehingga bulan-bulannya bergeser sekitar 10 hari setiap tahun.
Akibatnya, Ramadan berputar melewati semua musim dalam siklus sekitar 33 tahun—kadang jatuh di musim panas dengan hari panjang, kadang di musim dingin dengan puasa lebih singkat. Pada 2026, Ramadan berada di akhir musim dingin dan awal musim semi di belahan bumi utara—biasanya periode yang sedang. Namun DST membuatnya lebih rumit.
Dampak perubahan waktu
Di paruh pertama Ramadan, seorang Muslim di New York City mungkin berbuka sekitar pukul 17.45. Waktu matahari terbenam bertambah sedikit setiap hari hingga sekitar 17.54 pada 7 Maret. Namun setelah DST berlaku pada 8 Maret, waktu yang sama tiba-tiba menjadi pukul 18.55.
Puasa sebenarnya tidak menjadi lebih lama, tetapi semuanya bergeser satu jam lebih lambat: waktu berbuka, sahur, salat malam, waktu keluarga, dan tidur.
Selama Ramadan, umat Islam menahan diri dari makan dan minum dari fajar hingga matahari terbenam—biasanya 12–15 jam tergantung lokasi. Hari memang bertambah panjang seiring datangnya musim semi, tetapi tantangan utama di sini adalah perubahan mendadak pada jadwal harian.
Di mana perubahan ini terjadi
Perubahan ini terutama memengaruhi Muslim di:
Sebagian besar Amerika Serikat (kecuali Arizona dan Hawaii)
Sebagian besar Kanada
Sementara itu, sebagian Eropa tidak terdampak karena perubahan waktu musim panas terjadi setelah Ramadan berakhir. Wilayah tanpa DST seperti Timur Tengah, sebagian Asia, dan Afrika juga tidak mengalami perubahan ini.
Dampaknya berbeda bagi tiap orang
Imam Abdul-Malik Merchant dari Hearts Together Foundation mengatakan dampaknya berbeda-beda. Banyak orang mungkin tidak terlalu terpengaruh karena tubuh sudah terbiasa berpuasa setelah sekitar 20 hari.
Namun bagi sebagian orang, seperti Aseel Hasan—ibu hamil di Cincinnati—perubahan ini menuntut perhatian ekstra. Ia tetap mencoba berpuasa meski mendapat keringanan dalam Islam, dan harus memastikan cukup hidrasi serta energi untuk menjalani aktivitas sehari-hari.






