#Ramadhan 1447 HIBADAH

Semangat Beribadah di Sepuluh Terakhir Ramadhan

Bersamangat beribadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan adalah sunnah utama Rasulullah saw untuk meraih keutamaan Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Ibadah ditingkatkan dengan i’tikaf, shalat malam (qiyamul lail), tilawah Al-Qur’an, dan memperbanyak doa serta sedekah, terutama pada malam-malam ganjil.

Sayyidah ‘Aisyah ra, istri Nabi, menceritakan bahwa Nabi saw bersungguh-sungguh memanfaatkan sepuluh akhir Ramadhan untuk beribadah. Ini haditsnya,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: – كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ اَلْعَشْرُ -أَيْ: اَلْعَشْرُ اَلْأَخِيرُ مِنْ رَمَضَانَ- شَدَّ مِئْزَرَهُ, وَأَحْيَا لَيْلَهُ, وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika memasuki 10 Ramadhan terakhir, beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174).

Yang dimaksud dengan Rasulullah mengencangkan sarungnya adalah meninggalkan istri-istri beliau karena ingin konsentrasi untuk ibadah di akhir-akhir Ramadhan. (Lihat Nuzhatul Muttaqin, hal. 68).

Hadits di atas menunjukkan perintah kepada umat untuk menghidupkan malam-malam Ramadhan, terutama pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan. Karena di malam-malam sepuluh terakhir Ramadhan ada ‘lailatul qadar’ yakni malam yang sangat istimewa. Karena di malam itu Al-Quran diturunkan,beribadah di malam lailatul-qadar itu keutamaannya lebih baik dari seribu bulan atau setara dengan 83 tahun lebih 4 bulan. Masyaallah.

Nabi saja yang sudah dijamin masuk surga, masih semangat beribadah di malam-malam terakhir Ramadhan. Bagaimana dengan kita yang masih berlumuran dosa tak sungguh-sungguh memanfaatkan malam sepuluh terakhir Ramadhan? Betapa ruginya kalau malas kita.

Keistimewaan Lailatul-Qadar

Salah satu ayat Al-Qur’an sebagai dalil keistimewaan Lailatul Qadar adalah surat Al-Qadar:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ، وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ, لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ، سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Sesungguhnya, Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan, tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu, turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (Q.S. al-Qadr [97]: 1-5)

Surah Al Qadr, menceritakan secara lengkap keistimewaan malam Lailatul Qadar. Di malam al-Qadar ini: Allah turunkan Al-Qur’an dari Lauhul Mahfudh ke Baitul ‘Izzah (langit dunia); beramal ibadah pahalanya dilipatgandakan sampai lebih baik beramal ibadah selama seribu bulan atau setara dengan 83 tahun lebih.

Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malaikat turun membawa keberkahan, rahmat, dan qadha’ atau ketentuan tahunan (rezeki, kematian, dll.) atas perintah Allah.

1 2 3Laman berikutnya
Back to top button