Malam ke-23 Iktikaf, Kiai Didin Jelaskan Keutamaan Qiyamulail bagi Ketahanan Iman dan Akhlak

Bogor (SI Online) – Pembina Masjid Ibn Khaldun Bogor, Prof. Dr. KH Didin Hafidhuddin, MS, mengajak umat Islam untuk membiasakan shalat malam (qiyamulail) sebagai amalan yang memiliki banyak keutamaan, baik bagi kehidupan spiritual maupun pembentukan akhlak.
Pesan tersebut disampaikan Kiai Didin dalam tausiyah usai pelaksanaan salat tahajud dalam rangkaian iktikaf hari ketiga di 10 hari terakhir Ramadan di Masjid Ibn Khaldun Bogor, pada Jumat dini hari (13/3/2026).
Dalam tausiyahnya, Kiai Didin menegaskan bahwa qiyamulail merupakan amalan yang sejak dahulu menjadi kebiasaan orang saleh dan para pejuang dalam menegakkan agama.
“Hendaklah kalian membiasakan qiyamulail, karena qiyamulail merupakan kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang saleh dan para mujahid,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa qiyamulail yang dilakukan dengan penuh kekhusyukan akan memberikan pengaruh positif terhadap pikiran dan emosi seseorang, sehingga mampu membentuk karakter yang lebih kuat dan tenang.
Selain itu, qiyamulail juga menjadi momen istimewa bagi seorang hamba untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. “Pada waktu malam yang sunyi, seorang hamba bisa bermunajat dan berdoa dengan lebih khusyuk,” kata Kiai Didin.
Ia menambahkan bahwa dalam beberapa riwayat hadis disebutkan bahwa pada malam-malam tertentu di bulan Ramadan, termasuk malam ke-23, para malaikat mencatat permohonan dan doa-doa yang dipanjatkan oleh hamba Allah.
Kiai Didin juga menekankan bahwa qiyamulail dapat menjadi benteng bagi umat Islam dari berbagai bentuk dosa dan kerusakan moral.
Menurutnya, bagi generasi muda, kebiasaan qiyamulail dapat menjadi pertahanan yang kuat dari berbagai pengaruh negatif yang merusak akhlak, seperti penyalahgunaan narkoba, LGBT, maupun perilaku menyimpang lainnya.
“Qiyamulail harus dibiasakan di mana pun kita berada, agar kita mampu bertahan dari berbagai hal yang merusak,” ujarnya.
Ia juga mendorong agar qiyamulail dilakukan secara berjamaah agar menjadi budaya yang hidup di tengah masyarakat dan dapat memperkuat ketahanan moral generasi muda.
“Jika qiyamulail berjamaah dibiasakan, maka generasi muda akan memiliki pertahanan iman yang lebih kuat,” katanya.
Selain itu, Kiai Didin menjelaskan bahwa qiyamulail juga memiliki keutamaan dalam menghapus dosa dan kesalahan seorang hamba. “Allah akan mengampuni dosa-dosa hamba yang bertobat, khususnya ketika ia bermunajat kepada-Nya pada waktu qiyamulail,” jelasnya.
Ia juga menyebutkan bahwa shalat tahajud tidak hanya bermanfaat secara spiritual, tetapi juga dapat memberikan dampak positif bagi kesehatan.
Menurutnya, tahajud dapat menjadi terapi yang membantu menjaga tubuh dari berbagai penyakit berbahaya.
Di akhir tausiyahnya, Kiai Didin berharap hadis-hadis tentang keutamaan qiyamulail dapat dijadikan sebagai materi pembelajaran di dunia pendidikan.
“Dengan menjadikannya sebagai bagian dari pendidikan, diharapkan generasi mendatang memiliki ketahanan iman dan akhlak yang kuat,” pungkasnya. []






