Perang AS–Israel Lawan Iran Dipengaruhi Agama
Konflik ini telah berubah menjadi benturan zero-sum antara kerangka mesianis yang saling bersaing.
Oleh: Riaz Khokhar, Analis Independen.
Perang Amerika Serikat–Israel melawan Iran bukan hanya benturan kepentingan strategis, tetapi juga tabrakan ideologi keagamaan yang saling bersaing. Memahaminya hanya melalui lensa sekuler-realis berarti melewatkan setengah dari cerita.
Setelah pengarahan pers Pentagon pada 2 Maret, Menteri Perang AS Pete Hegseth menyatakan bahwa “rezim gila seperti Iran yang terobsesi dengan delusi Islamis profetik tidak boleh memiliki senjata nuklir”. Secara terpisah, Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyebut para pemimpin Iran sebagai “fanatik agama yang gila”.
Untuk memahami mengapa pernyataan ini penting—dan mengapa perang ini tidak bisa dipahami hanya secara strategis—kita harus melihat dinamika dalam masyarakat Kristen Barat.
Selama beberapa dekade, sistem Barat beroperasi secara sekuler: agama ditempatkan dalam ranah privat, sementara negara bersifat netral. Sementara itu, banyak masyarakat Muslim tetap menjadikan agama sebagai prinsip pengatur keluarga, hukum, dan urusan publik, sedangkan sebagian besar Barat Kristen justru meninggalkan praktik keagamaan atau membatasinya pada kehidupan pribadi.
Menurut pandangan Kristen konservatif, akibatnya serius: melemahnya keluarga tradisional, menurunnya angka kelahiran, meningkatnya politik seksual ultra-liberal, dan mundurnya agama dari kehidupan publik dan moral.
Namun dalam koalisi konservatif itu terdapat arus yang lebih keras: nasionalisme Kristen. Berbeda dari konservatisme agama biasa, ideologi ini ingin menempatkan semua agama dan sistem budaya lain di bawah supremasi Kristen dalam semua aspek kehidupan politik, hukum, dan sosial. Ideologi ini sering berkaitan dengan nasionalisme kulit putih, rasisme, antisemitisme, dan Islamofobia.
Pete Hegseth dianggap mewakili arus keras ini. Ia dikaitkan dengan Christian Reconstructionism—gerakan yang menolak pemisahan agama dan negara—dan memandang Pentagon sebagai alat perang suci. Ia bahkan menyebut tato simbol Salib Yerusalem dan “Deus Vult” (“Tuhan menghendaki”) sebagai lambang “Perang Salib Kristen Amerika modern”.
Berkat pandangan seperti ini, narasi “Perang Salib” mulai masuk dari pinggiran ke budaya militer operasional.
Lembaga Military Religious Freedom Foundation melaporkan menerima lebih dari 110 keluhan dari personel militer AS di Timur Tengah. Salah satu laporan menyebut seorang komandan mengatakan perang ini adalah “bagian dari rencana ilahi Tuhan”, mengutip Kitab Wahyu dan menyatakan bahwa Donald Trump “diurapi oleh Yesus untuk memicu Armageddon di Iran”.
Robert P. Jones menjelaskan logika pandangan ini: “Ini bukan sekadar glorifikasi kekerasan, tetapi glorifikasi kekerasan atas nama Kekristenan dan peradaban… menjadikannya perang suci antara negara yang dianggap Kristen melawan negara Muslim.”
Di antara kelompok berpengaruh dalam arus ini adalah Zionis Kristen dan ‘evangelis dispensasionalis’ yang percaya bahwa pembangunan kembali Bait Suci Ketiga di lokasi Masjid Al-Aqsa adalah syarat teologis bagi kedatangan kedua Yesus.
Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee—yang mengaku sebagai Zionis Kristen—bahkan menyatakan bahwa “tidak masalah jika Israel menguasai semuanya,” merujuk pada kemungkinan kontrol Israel atas wilayah luas Timur Tengah berdasarkan tafsir Alkitab.






