Ali Larijani: Jatuh Satu, Tumbuh Seribu
Oleh: Yanuardi Syukur, Pengajar Diplomasi Kebudayaan di Universitas Khairun, Ternate.
Pada 17 Maret 2026, rudal Israel menewaskan Ali Larijani, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran. Putranya dan kepala kantornya turut gugur. Di malam yang sama, komandan Basij, Gholamreza Soleimani, juga syahid.
Sejak Desember 2025, Larijani adalah “penguasa de facto” Iran. The New York Times menyebutnya “otak di balik penumpasan protes.” BBC Persian menggambarkannya sebagai “figur sentral” penghubung politik, militer, diplomasi, dan keamanan. Kehilangan ini berat, tapi bukan akhir.
Jembatan yang Runtuh
Larijani adalah penjembatan antar faksi yang bersaing. Konservatif dan pragmatis, militer dan sipil, ulama dan teknokrat bisa duduk bersama karena ia hadir. BBC mencatat ia “menggabungkan loyalitas ideologis dengan pendekatan teknokratis.” Ia menantu Ayatollah Morteza Motahhari, ideolog revolusi, namun juga negosiator yang berbicara dengan Barat. Kini celah antarfaksi melebar.
IRGC akan semakin dominan pasca kepergiannya. Kelompok sipil kehilangan suara di meja pengambilan keputusan. Para ulama moderat juga kehilangan jembatan komunikasi dengan militer. Akibatnya, kebijakan Iran akan kehilangan keseimbangan dan cenderung lebih ekstrem.
Tapi ini bukan pertama kalinya Iran menghadapi pergeseran kekuasaan. Sejak revolusi 1979, Iran selalu menemukan cara menyeimbangkan diri. Ketika satu faksi melemah, faksi lain bangkit. Ketika satu pemimpin gugur, pemimpin baru muncul dari barisan bawah.
Struktur kekuasaan Iran memang rumit, tapi justru kerumitan itulah yang membuatnya tangguh. Ia tidak bergantung pada satu orang. Jembatan mungkin runtuh, tapi banyak jalan lain akan terbuka.
Peralihan Komando
Larijani adalah otak strategi besar: memperluas konflik, menutup Selat Hormuz, mengoordinasikan front perlawanan. Ia mengelola tiga krisis sekaligus: perang, protes domestik, dan negosiasi nuklir. BBC mencatat, “Kepergiannya meninggalkan masalah-masalah ini tak terselesaikan.” Tanpa koordinator pusat, keputusan militer akan terdesentralisasi.
Presiden Pezeshkian memberi sinyal unit militer akan bertindak otonom jika kepemimpinan senior lumpuh. Setiap komandan lapangan bisa mengambil keputusan sendiri. Akibatnya, serangan mungkin lebih sering tapi tanpa arah yang jelas.
Tapi dalam perang asimetris, koordinasi terpusat tidak selalu diperlukan. Jaringan proksi Iran di Lebanon, Suriah, Yaman, Irak, dan Palestina terbiasa bertindak mandiri. Hezbollah tak perlu menunggu perintah Tehran setiap kali menembakkan roket. Houthi tahu kapan harus menyerang kapal di Laut Merah.
Jaringan ini adalah organisme hidup yang bisa berfungsi meski kepalanya terluka. Tanpa Larijani, mesin perlawanan akan terus bergerak. Mungkin lebih lambat, tapi tak akan berhenti.
Melawan, Walau Sendiri
Sehari sebelum wafat, Larijani mengecam negara Islam—khususnya UEA—yang “meninggalkan Iran.” Ia menyesalkan tak ada pemerintah Islam yang berdiri di samping rakyat Iran. Dengan getir ia mengutip sabda Nabi: “Barangsiapa mendengar teriakan minta tolong seorang Muslim dan tidak merespons, maka ia bukan Muslim.”
Pahit memang. Iran berperang sendirian, dikelilingi negara Muslim yang membiarkan pangkalan AS di wilayah mereka digunakan untuk menyerang Tehran. Bahkan Presiden UEA secara terbuka menyebut Iran sebagai “musuh.” Larijani meninggal saat solidaritas Islam yang ia serukan hanya tinggal kenangan.






