Enam Puluh Tahun: Menghitung Langkah Menuju Pulang
Pagi yang Lebih Sunyi
Pagi itu, Jamaluddin duduk sendirian di teras rumahnya di pinggir Kota Padang. Usianya genap enam puluh tahun seminggu lalu. Tidak ada pesta. Tidak ada ucapan meriah. Hanya secangkir kopi yang mulai dingin dan suara azan Subuh yang baru saja berlalu.
Ia memandangi jalan kecil di depan rumah. Anak-anak sekolah lewat dengan sepeda motor. Tetangga berangkat bekerja. Dunia bergerak seperti biasa. Hanya dirinya yang merasa waktu mendadak berjalan lebih lambat.
“Dulu rasanya umur enam puluh itu jauh sekali,” katanya pelan.
Kini angka itu telah tiba. Tanpa aba-aba.
Tanpa persiapan.
Usia enam puluh, bagi sebagian orang, hanyalah statistik demografi. Tapi bagi Jamaluddin, ia terasa seperti sebuah pintu yang tiba-tiba terbuka—pintu menuju ruang sunyi bernama perenungan.
Ia mulai bertanya bukan lagi tentang masa depan, melainkan tentang masa lalu.
Apa yang sudah dilakukan?
Apa yang terlewatkan?
Dan—pertanyaan yang paling berat—apa yang akan ia bawa pulang?
Ketika Hitungan Berubah
Di sebuah masjid kecil di kawasan Lubuk Buaya, Ustaz Rahman sering melihat perubahan yang sama. Jamaah baru bermunculan—kebanyakan lelaki berusia kepala enam.
Mereka dulu sibuk berdagang, menjadi pegawai negeri, sopir, kontraktor, atau perantau. Kini mereka datang lebih awal ke masjid. Duduk lebih lama setelah salat. Tidak buru-buru pulang.
“Biasanya orang mulai sadar waktu bukan lagi terasa panjang,” kata Rahman suatu malam selepas Isya.
Menurutnya, usia enam puluh adalah fase ketika manusia berhenti menghitung rencana dan mulai menghitung sisa.
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: “Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepadamu pemberi peringatan?” (QS. Fāṭir: 37)
Ayat itu, kata Rahman, bukan ancaman keras. Ia lebih mirip pertanyaan lembut—namun sulit dijawab.
Bukankah waktu sudah cukup panjang?
Bukankah tanda-tanda telah datang?

