INTERNASIONAL

Saudi Bantah Izinkan Wilayah Udaranya untuk Operasi Militer AS

Riyadh (Suaraislam.id)-Arab Saudi membantah telah mengizinkan wilayah udaranya digunakan untuk operasi militer ofensif di tengah ketegangan regional terkait perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Stasiun TV Al Arabiya, yang mengutip sumber, melaporkan bahwa Riyadh berupaya meredakan ketegangan dan mendukung upaya mediasi Pakistan untuk mencapai kesepakatan mengakhiri perang antara Amerika Serikat dan Iran.

“Kerajaan tidak mengizinkan penggunaan wilayah udaranya untuk mendukung operasi militer ofensif. Ada pihak-pihak yang mencoba memberikan gambaran yang menyesatkan tentang posisi Arab Saudi karena alasan yang mencurigakan,” kata sumber tersebut.

Sanggahan tersebut muncul setelah The Wall Street Journal melaporkan pada Kamis (07/05/2026) bahwa Arab Saudi dan Kuwait telah mencabut pembatasan penggunaan pangkalan serta wilayah udara mereka oleh militer Amerika.

Pembatasan tersebut sebelumnya diberlakukan setelah peluncuran operasi Amerika untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Mengutip pejabat Amerika dan Saudi, laporan tersebut mengatakan bahwa pemerintahan Trump sedang bersiap untuk memulai kembali operasi pengawalan angkatan laut bagi kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.

Operasi itu dilakukan dengan dukungan angkatan laut dan angkatan udara AS setelah misi tersebut dihentikan sementara awal pekan ini.

Ketegangan regional telah meningkat tajam sejak Amerika dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari hingga memicu pembalasan Iran terhadap Israel dan sekutu Amerika di Teluk.

Situasi tersebut terjadi bersamaan dengan penutupan Selat Hormuz oleh pihak terkait.

Amerika kemudian mengumumkan gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April dan dilanjutkan negosiasi dengan mediasi Pakistan, meskipun negosiasi itu gagal menghasilkan kesepakatan permanen.

Trump kemudian mengumumkan perpanjangan gencatan senjata tanpa menetapkan tenggat waktu yang diikuti dengan blokade angkatan laut.

Blokade tersebut menargetkan lalu lintas maritim Iran di Selat Hormuz sejak 13 April.

1 2Laman berikutnya
Back to top button