#Perang Iran vs AS-IsraelOPINI

Iran dan Ancaman Perang Total

Oleh: Yanuardi Syukur, Dosen Antropologi Universitas Khairun, Ternate & Anggota Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerja sama Internasional MUI.

Dalam beberapa hari terakhir, dunia kembali disuguhi ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang seolah berada di ujung tanduk.

Di satu sisi, negosiasi dikabarkan mencapai kesepakatan tentatif yang menunggu persetujuan Presiden Donald Trump. Namun di sisi lain, Teheran justru semakin lantang mengirimkan sinyal peringatan.

Seperti dikutip CNN pada Sabtu, 30 Mei 2026, Pasukan Revolusioner Iran menegaskan bahwa setiap konflik baru tidak hanya akan meluas jauh melampaui kawasan, tetapi juga mengancam pukulan telak dan kehancuran total di tempat-tempat yang bahkan tidak bisa dibayangkan oleh lawan.

Namun, penting untuk dicatat bahwa juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyampaikan nada yang jauh lebih hati-hati.

Menurut Al Jazeera pada Sabtu, 30 Mei 2026, Baghaei menegaskan bahwa pertukaran pesan antara Iran dan AS masih berlangsung, namun belum ada kesepakatan final yang tercapai.

Iran juga menolak keras nada ultimatum Presiden Trump dan menunjukkan bahwa diplomasi masih menggantung di atas jurang yang dalam.

Perubahan Pola Ancaman Iran

Satu hal yang paling mengkhawatirkan saat ini adalah perubahan pola ancaman Iran dibanding perang sebelumnya.

Dalam laporan CNN disebutkan bahwa seorang anggota komite keamanan nasional Iran, Ahmad Bakhshayesh Ardestani, secara terbuka menyatakan jika AS menargetkan fasilitas minyak mereka, maka Teheran akan membalas dengan menyerang sumur-sumur minyak negara-negara Teluk, bukan sekadar pipa atau kilang.

“If they intend to do something so that we do not have oil, we will attack the well so that they do not have oil either,” (“Jika mereka berniat melakukan sesuatu sehingga kami tidak memiliki minyak, kami akan menyerang sumur sehingga mereka juga tidak memiliki minyak,”)

Ini adalah eskalasi kualitatif. Menyerang sumur minyak berarti mematikan produksi dalam jangka panjang, sebuah senjata pemusnah ekonomi yang akan membuat harga minyak melambung tak terkendali dan inflasi meroket di seluruh negara berkembang, termasuk Indonesia yang sangat rentan terhadap guncangan energi.

Tak hanya di darat, Iran juga mengancam akan melumpuhkan dua jalur maritim paling vital dunia secara simultan.

Masih dari data CNN, para analis seperti Umud Shokri dari George Mason University memperingatkan bahwa krisis simultan di Babalmandeb dan Selat Hormuz akan jauh lebih serius karena berpotensi memengaruhi perdagangan Laut Merah dan aliran energi Teluk Persia.

1 2 3Laman berikutnya
Back to top button