OPINI

Netanyahu Tergilas Poros Washington

Oleh: Yanuardi Syukur, Dosen Antropologi Sosial Universitas Khairun, Ternate dan Anggota Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional MUI Pusat.

Tiga bulan setelah jet Israel dan Amerika Serikat bersama-sama menggempur Iran pada 28 Februari 2026, koalisi militer yang sempat disambut Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sebagai “aliansi terdekat dalam sejarah” mulai menunjukkan keretakan yang dalam.

Kini, proses diplomasi untuk mengakhiri perang justru didominasi oleh Washington, sementara Netanyahu sendiri perlahan tersisihkan.

Seperti dilaporkan CNN oleh Tal Shalev (29 Mei 2026), di balik pintu tertutup, Netanyahu mengakui bahwa Israel memiliki pengaruh yang sangat terbatas terhadap hasil negosiasi AS-Iran.

Ia bahkan berulang kali mendesak Trump untuk melanjutkan operasi militer skala penuh dengan alasan bahwa tekanan berkelanjutan dapat secara akseleratif meruntuhkan rezim Teheran.

Opposite Direction

Namun, Gedung Putih justru bergerak pada “opposite direction”, ke arah sebaliknya, yakni menempuh jalur diplomatik.

Sumber-sumber Israel menyebutkan bahwa Netanyahu kini cemas kesepakatan yang muncul hanya akan menjadi “kesepakatan sementara yang buruk” di mana stok uranium Iran, program misil balistik, dan jaringan proksi regional—yang menjadi inti kekhawatiran Israel—nyaris tidak tersentuh, sementara tekanan ekonomi terhadap Teheran justru dilonggarkan.

Lebih jauh, salah satu sumber Israel bahkan menyatakan dengan blak-blakan: “So this is how it feels when Trump throws us under the bus” (Jadi beginilah rasanya ketika Trump melemparkan kita ke bawah bus).

Ekspresi kekecewaan Israel tersebut diperparah dengan isu Lebanon, di mana Iran dilaporkan mendorong agar kesepakatan mencakup gencatan senjata di Lebanon, sesuatu yang pastinya akan membatasi gerak Israel melawan Hizbullah.

Sementara itu, sekutu sayap kanan Netanyahu, Menteri Itamar Ben Gvir dan Bezalel Smotrich, justru menekan agar Israel mengambil respons militer yang lebih agresif, bahkan menantang Netanyahu untuk “mengonfrontasi Trump”.

Namun, Netanyahu sadar bahwa ia telah menuangkan terlalu banyak modal politiknya ke dalam hubungan dengan Trump.

Berbeda dengan saat ia dengan lantang menentang kesepakatan nuklir Iran 2015 di depan Kongres AS, kali itu pilihan yang sama tidak tersedia.

Para kritikus menuding bahwa Netanyahu gagal menerjemahkan keberhasilan taktis militer menjadi keuntungan strategis.

1 2 3Laman berikutnya
Back to top button