MUHASABAH

Hijrah untuk Perubahan

Oleh: Hasan Basri Tanjung, Dosen Sekolah Pascasarjana UIKA Bogor/Ketua Yayasan Dinamika Umat.

Sungguh, waktu berjalan sedemikian cepat bergulir dalam kehidupan kita. Hari demi hari, pekan dan bulan silih berganti hingga setahun pun berlalu tanpa terasa.

Rasa-rasanya umat Muslim baru saja memasuki tahun 1447 Hijriah, tetapi tahu-tahu sekarang sudah tiba tahun baru 1448 Hijriah. Setiap kali pergantian tahun terjadi, kita selalu diingatkan akan arti penting dan dampak besar waktu bagi kehidupan manusia.

Tiada yang paling jauh dari diri kita selain waktu yang telah berlalu, sebab ia tidak akan pernah bisa kembali lagi. Entah kita memilih diam atau bergerak, waktu akan tetap datang menebas bak pedang yang tajam tanpa pilih bulu. Ia juga tidak pernah berhenti sejenak hanya untuk menunggu kita melakukan suatu kebaikan.

Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain kecuali menyiapkan diri untuk menyikapi pergantian waktu dengan introspeksi diri (muhasabah) dan amal saleh agar bisa menata diri untuk merancang masa depan.

Petuah dari guru kehidupan kita, KH Didin Hafidhuddin, dalam buku Membangun Kemandirian Umat (halaman 79) sangat penting untuk direnungkan bersama.

Menurut beliau, setidaknya ada empat langkah strategis dari peristiwa hijrah Nabi saw. yang mengandung nilai krusial bagi umat Islam. Langkah-langkah tersebut adalah menghidupsuburkan kegiatan takmir di Masjid Quba maupun Masjid Nabawi, serta menghidupsuburkan kegiatan ekonomi melalui aktivitas pasar.

Selain itu, peristiwa hijrah juga mengajarkan pentingnya menguatkan ukhuwah islamiyah antara sesama kaum muslimin, yaitu kaum Muhajirin dan Anshar. Langkah terakhir adalah menguatkan ukhuwah wathaniyah (kebangsaan) dan ukhuwah basyariyah (kemanusiaan) di tengah masyarakat.

Nilai-nilai hijrah tersebut mesti diimplementasikan dalam kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara saat ini agar semangat perubahan tetap menyala dalam kehidupan setiap Muslim.

Untuk itu, hendaknya umat Islam menyadari sekaligus membenahi diri dengan melawan delapan musuh bersama (common enemy) sesuai pesan junjungan kita, Nabi Muhammad saw.

Jika kita tidak mampu melawan musuh yang bercokol di dalam diri sendiri, maka tidak mungkin kita bisa mengalahkan musuh dari luar. Musuh eksternal tersebut hadir dalam bentuk paham sesat sekularisme, pluralisme, liberalisme, gerakan masif LGBT, narkoba, prostitusi, judi, korupsi, serta eksploitasi manusia dan lingkungan alam.

Nabi saw. mengajarkan kepada kita agar memohon perlindungan kepada Allah Swt. dari delapan sifat, mentalitas, atau keadaan jiwa tersebut melalui rangkaian doa yang indah. Beliau bersabda: ”Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa cemas dan sedih, lemah dan malas, pengecut dan bakhil, belitan utang dan penindasan orang.” (HR. Bukhari).

Dua hal pertama yang disebutkan dalam doa tersebut adalah rasa cemas (al-hamm) dan sedih (al-hazan), yakni kondisi batin yang sangat melemahkan manusia.

Cemas adalah wujud kekhawatiran berlebihan akan kejadian di masa datang yang belum tentu menjadi kenyataan. Sementara itu, sedih adalah kekecewaan atau penyesalan mendalam atas sesuatu di masa lampau yang tidak mungkin bisa terulang atau diubah lagi.

1 2 3Laman berikutnya
Back to top button