Hijrah untuk Perubahan
Orang yang tidak bisa mengendalikan rasa cemas dan sedih akan hidup menderita dan tidak akan mampu melakukan perubahan diri, apalagi meraih pencapaian.
Dalam khazanah tasawuf, dikenal konsep khauf (takut) dan raja’ (harap) untuk menata suasana hati manusia. Keduanya mesti berjalan seiring dan seimbang agar di saat muncul rasa takut, muncul pula harapan sehingga tumbuh keberanian menghadapi tantangan serta optimis menjalani kehidupan (QS. Ali ‘Imran: 139).
Lalu, sifat lemah (al-’ajz) dan malas (al-kasl) adalah sifat dan kondisi jiwa yang merusak diri manusia serta menjerumuskannya pada penderitaan.
Seorang yang lemah biasanya memiliki kemauan, namun ia tidak memiliki kemampuan untuk mengeksekusinya. Sementara itu, seorang yang malas sama sekali tidak memiliki kemauan padahal ia sebenarnya memiliki kemampuan yang mumpuni.
Terkait hal ini, ada sebuah kata mutiara (mahfudzot) yang sering diajarkan kepada para santri di lingkungan pesantren. ”Bersungguh-sungguhlah dan jangan malas, dan jangan pula lalai, sebab penyesalan adalah hukuman yang pantas bagi siapa yang malas.”
Sifat lemah dan malas ini lambat laun akan melahirkan kemiskinan serta kebodohan yang menyengsarakan kehidupan, oleh karenanya Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah Swt. daripada Mukmin yang lemah (HR. Ibnu Majah).
Kemudian, pengecut (al-jubn) dan kikir (al-bukhl) merupakan dua sifat merusak yang sangat berbahaya bagi kepribadian seorang Muslim.
Pengecut adalah ketakutan yang tidak beralasan atas kejadian yang belum tentu terjadi dan menimpa dirinya karena selalu berpikir berlebihan (overthinking). Sifat ini muncul karena ia keliru mengira bahwa segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya pasti akan membahayakan atau menyebabkan kerugian bagi dirinya sendiri.
Oleh karena itu, seorang pengecut biasanya akan berubah menjadi orang yang kikir sehingga enggan menunaikan zakat ataupun infak (QS. Al-Baqarah: 268).
Sifat kikir sendiri terbagi menjadi dua macam, yakni pelit kepada diri sendiri (asy-syuhh) dan pelit kepada orang lain (al-bukhl). Awalnya seorang manusia bersikap pelit kepada sesama karena takut hartanya berkurang, namun lama-kelamaan sifat itu akan berubah menjadi pelit terhadap kebutuhan dirinya sendiri (QS. At-Taghabun: 16).
Dua kondisi terakhir dalam doa Rasulullah saw. berkaitan dengan faktor eksternal, yakni belitan utang (ghalabatid dain) dan penindasan orang (qahrir rijal).
Seorang yang terbelit utang dalam bentuk apa pun akan berada pada posisi yang sangat lemah serta kehilangan harga diri di mata publik. Sebab akibat ketidakberdayaan ekonomi tersebut, orang lain akan menjadi sangat mudah untuk menindas dan membuat jalannya hidupnya merana.






