OPINI

Membaca Arah Baru Transformasi Global Al Qaeda

Oleh: Yanuardi Syukur, Dosen Antropologi Sosial Universitas Khairun, Ternate dan Anggota Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerja sama Internasional MUI Pusat.

Dua dekade lebih setelah serangan 11 September 2001, Al Qaeda tidak lenyap begitu saja. Organisasi yang diguncang oleh perang global tersebut justru menunjukkan kemampuan adaptasi yang luar biasa.

Hingga saat ini, gerakan yang mengatasnamakan mereka masih eksis di berbagai belahan dunia. Fenomena ini menjadi indikasi kuat bahwa jaringan mereka belum sepenuhnya terputus.

Pada tahun 2026, di bawah kepemimpinan baru dan perubahan strategi, Al Qaeda hadir dalam wujud yang berbeda. Mereka kini tampil lebih tersebar, lebih pragmatis, dan sangat mungkin lebih berbahaya.

Transformasi ini bukan sekadar pergantian figur pemimpin semata. Ini merupakan pergeseran fundamental dalam cara organisasi bergerak, merekrut anggota, dan memperluas pengaruh.

Pergantian Kepemimpinan

Puncak dari transformasi ini terlihat jelas pada struktur komando tertinggi mereka. Setelah kematian Ayman al-Zawahiri pada Juli 2022, Amerika Serikat dan PBB menyebut Al Qaeda kini berada di bawah kendali de facto Saif al-Adel.

Saif al-Adel merupakan mantan perwira pasukan khusus Mesir berusia 62 tahun yang konon berbasis di Iran, sebagaimana dilaporkan News of Bahrain pada 16 Februari 2023. Berbeda dengan pendahulunya yang lebih berperan sebagai ideolog, al-Adel adalah komandan militer berpengalaman yang fokus pada aspek operasional.

Keberadaannya yang diisukan dilindungi oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di Teheran menciptakan paradoks geopolitik yang menarik. Isu ini menampilkan kelompok Sunni radikal yang berlindung di negara dengan mayoritas Syiah.

Namun, perwakilan Iran di PBB segera membantah laporan tersebut. Melansir News of Bahrain (16 Februari 2023), mereka menyatakan bahwa informasi tersebut incorrect atau tidak benar.

Di bawah komando baru yang pragmatis, strategi Al Qaeda diprediksi bergeser dari serangan spektakuler ala 9/11 menjadi penguatan akar di tingkat lokal. Kendati bergerak di ranah regional, jaringan mereka tetap tersebar secara global.

Mereka semakin melebur ke dalam konflik-konflik lokal di berbagai negara. Kelompok ini memanfaatkan ketidakstabilan wilayah sebagai lahan subur untuk melakukan ekspansi.

Di Afrika Barat, afiliasi mereka yang bernama Jama’at Nusrat al-Islam wal-Muslimin (JNIM) mulai menunjukkan taringnya. Mereka menyerang Bandara Internasional Diori Hamani dan pangkalan militer di Niamey, Niger, pada 18 Juni 2026.

Serangan terkoordinasi tersebut menewaskan 11 tentara dan 2 warga sipil, sementara 22 penyerang tewas dalam bentrokan. Insiden ini menjadi serangan kedua dalam waktu kurang dari lima bulan yang menargetkan lokasi serupa.

Peristiwa ini menandakan meningkatnya kapasitas militer dan keberanian JNIM di kawasan Sahel yang sedang dilanda krisis. Kondisi keamanan di wilayah tersebut pun semakin mengkhawatirkan.

Sementara itu di Asia Selatan, hubungan simbiosis antara Al Qaeda dan rezim Taliban di Afghanistan dilaporkan semakin erat. Pada 26 Juni 2026, Komando Umum Al Qaeda secara terbuka menyatakan dukungan penuh dengan segenap kemampuan mereka untuk Taliban.

1 2 3Laman berikutnya
Back to top button