OASE

Allah Swt Tidak Melihat ‘Casing’

Oleh: Abd. Mukti, Pemerhati Kehidupan Beragama.

Ada kecenderungan sebagian umat Islam saat ini lebih ta’dzim dan hormat kepada figur kiai daripada kepada Rasulullah saw. sebagai penerima dan pembawa risalah Islam dari Allah Swt. Hal ini kerap terjadi lantaran sebagian masyarakat terbius oleh penampilan fisik semata.

Jika ada dakwah atau tulisan yang disampaikan oleh sosok figur tertentu, respons masyarakat terkadang jauh lebih antusias dibandingkan saat disodorkan hadis atau sunnah Rasulullah saw. Banyak yang masih silau oleh kemasan tanpa kritis mencermati isinya.

Padahal, dalam sebuah hadis sahih Rasulullah saw. menegaskan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ”

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa (penampilan) kalian dan tidak pula harta kalian, tetapi Allah melihat pada hati kalian dan amal-amal kalian.” (HR. Muslim)

Berdasarkan hadis di atas, Allah Swt. menilai kemuliaan seorang hamba bukan terletak pada casing atau penampilan fisiknya—apakah ia berparas rupawan, berharta melimpah, berstatus pejabat, atau bertitel kiai. Standar kemuliaan yang hakiki terletak pada kesucian hati dan kebenaran amalnya.

Sebagus apa pun penampilan fisik seseorang, hal itu tidak serta-merta menjadikannya mulia di hadapan Allah Swt. Derajat termulia di sisi-Nya hanyalah ketakwaan.

Allah Swt. berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (QS. Al-Hujurat [49]: 13)

Mengikuti Petunjuk Allah Swt. dan Rasul-Nya

Masyarakat kerap dibuat bingung oleh tayangan atau anjuran yang memotivasi amalan tertentu, namun nyatanya berselisih dengan hadis sahih. Salah satu contoh nyata adalah riwayat amalan Rebo Wekasan pada bulan Safar.

Sebagian pihak mengajak umat melakukan ritual khusus untuk menolak bala pada Rabu terakhir bulan Safar dengan klaim bahwa Allah Swt. menurunkan ribuan marabahaya. Klaim tersebut sering kali dilaungkan berdasarkan ilham atau prasangka semata.

Padahal, Rasulullah saw. secara tegas telah membantah anggapan adanya kesialan pada bulan Safar:

لا عَدْوَى ولا طِيَرَةَ ولا هَامةَ ولا صَفَرَ وفِرَّ من المَجْذُومِ كما تَفِرُّ من الأَسَد

Dari Riwayat Imam Al-Bukhari r.a., Rasulullah saw. bersabda: “Tidak ada penyakit menular (dengan sendirinya), tidak ada ramalan buruk (kesialan), tidak ada kesialan karena burung hammah, tidak ada kesialan pada bulan Safar, dan larilah kamu dari penyakit kusta sebagaimana kamu lari dari singa.” (HR. Bukhari)

1 2 3Laman berikutnya
Back to top button