NUIM HIDAYAT

Cita-Cita Tertinggi Seorang Muslim

Oleh: Nuim Hidayat, Direktur Forum Studi Sosial Politik.

Setiap manusia tentu memiliki cita-cita yang tumbuh sejak kecil. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya pengalaman hidup, cita-cita tersebut biasanya mengalami penyesuaian hingga seseorang menemukan apa yang paling tepat bagi dirinya.

Bagi seorang Muslim, cita-cita tertinggi adalah menjadi pribadi yang shalih dan bertakwa. Apa pun profesi yang dijalani, kebaikan karakter harus menjadi landasan utama. Seorang presiden harus menjadi presiden yang shalih, guru yang shalih, dokter yang shalih, hingga pedagang yang shalih.

Dalam pandangan Al-Qur’an, seorang petani yang shalih jauh lebih mulia daripada seorang presiden yang zalim. Seorang pengemudi becak yang shalih lebih baik daripada gubernur yang korup, dan pedagang mi ayam yang shalih lebih utama daripada seorang kyai yang melakukan maksiat.

Tentu, seorang presiden yang shalih memiliki dampak kemanfaatan yang lebih luas daripada pemotong rumput yang shalih. Namun demikian, seluruh pribadi yang bertakwa mendapatkan kemuliaan di sisi Allah Swt.

Al-Qur’an menegaskan:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (QS. Al-Hujurat [49]: 13)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 102)

رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

“Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh.” (QS. Asy-Syu’ara’ [26]: 83)

وَزَكَرِيَّا وَيَحْيَىٰ وَعِيسَىٰ وَإِلْيَاسَ ۖ كُلٌّ مِّنَ الصَّالِحِينَ

“Dan Zakaria, Yahya, Isa, dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al-An’am [6]: 85)

وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا ۖ وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ

“Dan sungguh, Kami telah memilihnya (Ibrahim) di dunia, dan sesungguhnya di akhirat dia termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al-Baqarah [2]: 130)

وَيُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلًا وَمِنَ الصَّالِحِينَ

“Dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa, dan dia termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 46)

وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ نَافِلَةً ۖ وَكُلًّا جَعَلْنَا صَالِحِينَ

“Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishaq dan Ya’qub sebagai anugerah. Dan masing-masing Kami jadikan orang-orang yang saleh.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 72)

تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

“Wafatkanlah aku dalam keadaan Muslim dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” (QS. Yusuf [12]: 101)

Para nabi yang menjadi teladan utama manusia adalah orang-orang yang shalih dan bertakwa, yaitu pribadi yang senantiasa berusaha menjalankan seluruh perintah Allah Swt. dengan sekuat tenaga.

Menjadi Pemimpin Orang-Orang Bertakwa

Al-Qur’an mengajarkan umat beriman untuk tidak sekadar puas menjadi pribadi yang bertakwa, melainkan berorientasi menjadi teladan atau pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa (imaman lil muttaqin).

Al-Qur’an menyatakan:

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan orang-orang yang berkata: ‘Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.’” (QS. Al-Furqan [25]: 74)

Untuk menjadi teladan bagi orang-orang bertakwa, seseorang harus terlebih dahulu memantapkan ketakwaannya secara pribadi. Orang yang bertakwa dianugerahi berbagai kemuliaan oleh Allah Swt., antara lain:

  1. Jalan Keluar dan Rezeki: “Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Talaq [65]: 2–3)
  2. Anugerah Furqan: “Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia memberikan kepadamu furqan (kemampuan membedakan yang hak dan batil)…” (QS. Al-Anfal [8]: 29)
  3. Pertolongan dan Kebersamaan Allah: “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. An-Nahl [16]: 128)
  4. Jaminan Rahmat: “Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa…” (QS. Al-A’raf [7]: 156)
  5. Kemudahan Urusan: “Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.” (QS. At-Talaq [65]: 4)
  6. Penghapusan Dosa dan Kelipatan Pahala: “Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan membesarkan pahala baginya.” (QS. At-Talaq [65]: 5)
  7. Kabar Gembira Dunia-Akhirat: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati, yaitu orang-orang yang beriman dan bertakwa. Bagi mereka berita gembira dalam kehidupan dunia dan di akhirat.” (QS. Yunus [10]: 62–64)
  8. Balasan Surga: “Dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 133)
  9. Kemenangan Hakiki: “Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan.” (QS. An-Naba’ [78]: 31)
  10. Keselamatan dari Neraka: “Dan Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena kemenangan mereka.” (QS. Az-Zumar [39]: 61)

1 2Laman berikutnya
BACA JUGA
Close
Back to top button