Mengapa Penuntut Ilmu Masih Bermaksiat?
Oleh: Irma Deany Putri, Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok.
Di tengah masyarakat, masih ada anggapan bahwa orang yang belajar agama otomatis terhindar dari dosa dan kemaksiatan. Semakin tinggi ilmunya, diyakini akan semakin saleh pula kehidupan sehari-harinya.
Masyarakat juga jamak menilai bahwa semakin banyak hafalan seseorang, semakin kuat pula pertahanannya terhadap godaan maksiat. Harapan tersebut tentu tidak sepenuhnya salah.
Islam memang sangat memuliakan ilmu. Allah Swt. meninggikan derajat orang-orang yang berilmu, dan Rasulullah saw. menjelaskan bahwa menuntut ilmu merupakan jalan menuju kebaikan.
Namun, realitas kehidupan menunjukkan hal yang berbeda. Ilmu yang tinggi tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas amal seseorang.
Kita terkadang menyaksikan orang yang memahami hukum-hukum agama dengan baik dan mengetahui dalil tentang dosa serta pahala. Mereka bahkan mampu menjelaskan agama kepada orang lain, tetapi masih berjuang menghadapi berbagai bentuk kemaksiatan.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting di benak kita. Jika ilmu begitu mulia, mengapa seseorang yang memilikinya masih bisa terjatuh dalam dosa?
Tentu saja, fenomena ini tidak berarti mayoritas penuntut ilmu agama hidup dalam kemaksiatan. Justru banyak di antara mereka yang menjadi teladan dalam akhlak, ibadah, dan pengabdian kepada masyarakat.
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menghakimi atau merendahkan para penuntut ilmu. Artikel ini hadir untuk membahas sebuah kenyataan bahwa setiap manusia tetap memiliki potensi tergelincir jika tidak menjaga hati dan amalnya.
Ilmu yang Seharusnya Melahirkan Ketakwaan
Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama.” (TQS Fatir: 28).
Ayat ini tidak berarti bahwa setiap orang berilmu pasti bertakwa. Kutipan tersebut justru menunjukkan bahwa ilmu yang benar seharusnya melahirkan rasa takut kepada Allah Swt.
Semakin seseorang mengenal Allah Swt., memahami kebesaran-Nya, dan mengetahui konsekuensi setiap perbuatan, maka semakin besar pula rasa takutnya untuk berbuat maksiat. Namun, ilmu yang hanya berhenti di kepala dan tidak sampai ke hati sering kali gagal menghasilkan perubahan perilaku.
Seseorang mungkin mengetahui banyak hal tentang agama. Akan tetapi, pengetahuan itu belum tentu mengubah kebiasaan, karakter, dan cara hidupnya.
Allah Swt. juga mengingatkan, “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (TQS ash-Shaff: 3).
Ayat ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya menuntut seseorang untuk mengetahui kebenaran, tetapi juga mengamalkannya. Semakin besar ilmu yang dimiliki, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjadikan ilmu tersebut nyata dalam perilaku sehari-hari.






