OPINI

Rakyat Suriah Tidak Boleh Dikecewakan Lagi

Menstabilkan Suriah berarti menstabilkan perekonomiannya. Negara ini sangat membutuhkan dukungan internasional dan iklim investasi yang lebih aman.

Oleh: Martin Griffiths, Mantan Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan sekaligus mantan Koordinator Bantuan Darurat PBB.

Suriah telah lama memenuhi pikiran saya, yakni 15 tahun penderitaan bagi rakyatnya dan 15 tahun kegagalan keterlibatan masyarakat internasional. Saya terlibat langsung dalam bagian yang kedua itu—mula-mula sebagai anggota senior Kantor Utusan Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Suriah, kemudian sebagai Kepala Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA).

Karena itu, saya tidak bisa mengaku tidak memiliki tanggung jawab di hadapan rakyat Suriah.

Selama bertugas di PBB, saya harus menghadiri banyak pertemuan dengan para pejabat tinggi rezim Bashar al-Assad, termasuk dengan presiden Suriah sendiri. Sebagian orang menuduh saya dan PBB mempertahankan hubungan tersebut sebagai bagian dari “transaksi” untuk memperoleh akses kemanusiaan yang lebih baik.

Kenyataannya berbeda.

Lembaga-lembaga kemanusiaan beserta para pejabatnya memang harus bertemu dengan siapa pun yang dapat membantu ataupun menghambat penyaluran bantuan kemanusiaan. Itu bukan sebuah transaksi, melainkan sebuah keharusan.

Hal yang sama berlaku bagi para mediator yang harus selalu bertemu dengan pihak-pihak yang berkonflik dalam upaya mengakhirinya.

Semua pertemuan saya dengan Bashar al-Assad bertujuan menekan agar ia mengambil keputusan-keputusan yang diperlukan demi kesejahteraan rakyatnya. Ia hanyalah salah satu dari sekian banyak orang yang memiliki kekuasaan mengerikan untuk menciptakan dan mempertahankan penderitaan, yang terpaksa saya temui selama lima dekade bekerja sebagai diplomat.

Pada suatu kesempatan, di awal perang mengerikan yang dipicu al-Assad pada 2012, saya tinggal di Damaskus dan setiap hari melakukan negosiasi yang sia-sia dengan pemerintah Suriah atas nama PBB. Saya selalu mengangkat isu para tahanan.

Suatu hari, pejabat yang duduk di seberang meja menghentikan pembicaraan.

“Matikan mikrofon, dan letakkan pena kalian,” katanya.

Lalu ia menoleh kepada saya dan berkata dengan sangat sederhana:

“Berhentilah membuang waktu untuk urusan ini. Kami tidak akan pernah membebaskan mereka. Kami juga tidak akan pernah mengakui kenyataan itu.”

Pada tahun 2022, dalam sebuah pertemuan tertutup dengan al-Assad, saya menyarankan agar ia mengosongkan penjara-penjara.

“Tentu saja,” jawabnya. “Saya sudah mengosongkannya. Tidak ada lagi tahanan di sana sekarang!”

Setahun kemudian, setelah gempa bumi dahsyat melanda Suriah, saya bertemu al-Assad sebanyak tiga kali. Tugas saya adalah membujuknya agar melakukan langkah-langkah yang jelas diperlukan demi kesejahteraan dan hak-hak rakyatnya.

Kini saya dapat mengatakan bahwa upaya saya gagal total.

Rakyat Suriah akhirnya diselamatkan melalui aksi militer. Pengambilalihan Damaskus membuka jalan menuju perdamaian.

1 2 3Laman berikutnya
Back to top button