EDU-PARENTS

Saat Algoritma Mengambil Alih Peran Pengasuhan Orang Tua

Oleh: Fajri (Kepala Sekolah dan Pegiat Literasi)

Ada suatu pemandangan yang semakin lazim dijumpai di hampir semua rumah. Seorang ayah sibuk menatap layar telepon genggamnya, sementara seorang ibu menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah sambil sesekali memeriksa media sosial.

Di sudut lain, anak mereka tenggelam dalam dunia yang sama. Mereka menggulir video (scroll) tanpa henti atau berpindah dari satu konten ke konten lainnya.

Sekalipun berada di ruang yang sama, mereka hidup dalam dunia yang berbeda. Ironisnya, keluarga tampak lengkap, tetapi percakapan justru semakin langka.

Di tengah situasi itu, muncul suatu pertanyaan yang jarang kita ajukan: siapa sebenarnya yang sedang membesarkan anak-anak kita?

Sekilas jawabannya mudah: tentu orang tua. Namun, jika yang dimaksud membesarkan adalah membentuk perhatian, kebiasaan, selera, cara berpikir, bahkan cara memandang dunia, jawabannya tidak lagi sesederhana itu.

Hari ini, algoritma media sosial perlahan ikut mengambil peran tersebut. Algoritma bekerja tanpa lelah.

Ia mempelajari apa yang membuat seorang anak bertahan menatap layar, apa yang membuatnya tertawa, marah, penasaran, atau kembali membuka aplikasi yang sama. Semakin lama seorang anak berada di dalam ekosistem digital, semakin akurat algoritma mengenali dirinya.

Perlahan, ia bukan hanya memahami perilaku anak, melainkan juga ikut membentuk perilaku tersebut. Namun, menyalahkan algoritma semata merupakan suatu penyederhanaan.

Algoritma tidak pernah mengetuk pintu rumah dan merebut anak-anak dari pelukan orang tuanya. Ia hanya mengisi ruang yang perlahan kita kosongkan.

Ketika percakapan keluarga semakin jarang, ketika ayah terlalu lelah untuk mendengar, dan ketika ibu terlalu sibuk untuk menemani, layar hadir menawarkan sesuatu yang tampak sederhana: perhatian. Dari situlah algoritma mulai menjadi teman, penghibur, bahkan guru yang paling sering dijumpai anak.

Dalam psikologi perkembangan dikenal istilah father hunger, yaitu kerinduan seorang anak terhadap keterlibatan emosional ayah dalam kehidupannya. Margo Maine dalam Father Hunger (1991) dan David Blankenhorn dalam Fatherless America (1995) menunjukkan bahwa absennya figur ayah—baik secara fisik maupun emosional—dapat meningkatkan risiko berbagai persoalan perkembangan.

Risiko tersebut mulai dari rendahnya kepercayaan diri, kesulitan mengendalikan emosi, hingga kecenderungan mencari pengakuan di luar keluarga. Tentu tidak setiap anak yang mengalami minimnya keterlibatan ayah akan menghadapi persoalan yang sama.

Berbagai penelitian memperlihatkan bahwa kehadiran ayah bukan sekadar pelengkap, melainkan salah satu fondasi penting bagi tumbuh kembang anak. Di era digital, kekosongan itu semakin mudah diisi.

Jika dahulu seorang anak yang kehilangan perhatian mungkin mencarinya di lingkungan pergaulan, hari ini ia cukup membuka layar. Algoritma selalu tersedia.

1 2 3Laman berikutnya
Back to top button