PARENTING

Membangun Kecerdasan Anak dengan Iman

Konsep kecerdasan hari ini yang kita kenal dibagi jadi tiga yaitu kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ). Kecerdasan intelektual dan emosional bisa diukur, namun sampai sekarang belum ada indikator bagaimana mengukur kecerdasan spiritual seseorang.

Lalu bagaimana kita membangun kecerdasan anak sehingga mampu mengoptimalkan tiga unsur kecerdasan tadi?

Kita bisa mengambil pelajaran dari kisah Umar bin Khattab, seorang sahabat nabi yang cerdas.

Di usia yang masih sangat muda Umar sudah dipercaya untuk mewakili Bani Adiy ketika ada perkumpulan para pembesar Quraisy.

Karena kecerdasannya, tak jarang pendapat pendapat yang ia sampaikan di forum jadi pilihan pendapat yang disetujui para pembesar Quraisy waktu itu.

Ketika Islam mulai menyebar dan sampai pada telinga Umar, perhatian Umar terhadap masyarakat mulai berubah. Umar yang tadinya begitu peduli sekarang berubah suka menyiksa kaum Muslimin karena kebenciannya kepada Islam. Baginya Islam memecah belah, memisahkan anak dari orang tua, suami dari istri, kekacauan di tanah Mekkah waktu itu baginya karena kedatangan ajaran agama yang dibawa nabi Muhammad SAW.

Hingga hidayah Allah datang melalui doa Rasulullah, ia masuk Islam di tahun ke-6 kenabian.

Meski bisa dikatakan Umar telat masuk Islam, ia mampu jadi orang yang Rasulullah cintai di kalangan laki laki setelah Abu Bakar. Ia mampu menyalip posisi sahabat lainnya yang terlebih dahulu masuk Islam.

Umar pun jadi Khalifah kedua setelah Abu Bakar, lewat kepemimpinan nya juga Islam mampu tersebar luas hingga wilayah Persia, sebuah imperium besar yang tak mampu ditandingi bangsa Arab jahiliyah kala itu.

Dari kisah Umar kita belajar ketika kecerdasan didasari bukan dengan keimanan, maka ia akan melahirkan kerusakan. Itulah kebengisan Umar kepada kaum Muslimin sebelum ia berIslam. Seperti hari ini pula, ada anak cerdas intelektual tapi membunuh orang tuanya. Atau pejabat dengan nilai IPK bagus saat kuliah tapi korupsi.

Berbeda, ketika iman (kecerdasan spiritual) yang memimpin kecerdasan lainnya ia akan mampu menciptakan banyak kebaikan. Umar berada dideretan depan orang yang dicintai Rasulullah, ia pun mampu meluaskan dakwah Islam hingga imperium Romawi. Karena iman yang diajarkan Islam bukan untuk menghilangkan atau mengurangi potensi yang ada, tapi ia akan melejitkannya.

Betapa pentingnya kita sebagai orang tua harus menyadari bahwa pondasi dari membangun kecerdasan pada diri anak adalah keimanan (kecerdasan spiritual).

1 2Laman berikutnya
Back to top button