Tokoh Islam Terpecah, Itulah Kenapa 2024 Lalu Anies Tidak Terpilih
Oleh: Nuim Hidayat*
Bila menggunakan kacamata Islam, Anies Baswedan seharusnya menjadi pilihan bersama tokoh-tokoh Islam di Indonesia. Anies merupakan sosok pemimpin yang lebih saleh, lebih cerdas, dan lebih kreatif dibanding Prabowo maupun Ganjar.
Namun, begitulah cara sebagian orang dalam memilih presiden; mereka kerap kali tidak menilai secara objektif mengenai siapa yang paling baik dan mumpuni untuk memimpin tanah air.
Ada orang yang memilih presiden semata-mata demi mengincar jatah menteri atau posisi komisaris. Sebagian lainnya menentukan pilihan karena tergiur imbalan uang puluhan hingga ratusan miliar rupiah.
Motif-motif duniawi itulah yang menutup objektivitas seseorang dalam menilai kapabilitas calon presiden. Sifat tamak terhadap harta dan syahwat jabatan ini sayangnya juga menghinggapi sebagian tokoh Islam.
Sepanjang sejarah Islam dan perjalanan bangsa Indonesia, senantiasa ada tokoh Islam yang tulus berjuang, tetapi ada pula yang terjerat nafsu duniawi. Masyarakat awam umumnya kerap kesulitan membedakan antara tokoh Islam yang ikhlas dan mereka yang telah terjerat kepentingan materi.
Perbedaan tingkah laku tersebut pada hakikatnya hanya dapat ditangkap oleh ulama atau orang-orang yang berilmu. Golongan berilmu tidak hanya menilai seseorang dari retorika dan tulisan, melainkan juga mengamati perilaku serta keteladanan sehari-hari.
Ada kalanya seseorang memiliki keahlian bicara dan tulisan yang hebat, tetapi perilaku kesehariannya justru sangat mengecewakan. Menyandang gelar profesor atau kiai kerap membuat seseorang merasa paling unggul, meski kata dan perbuatannya tidak selaras.
Sebagian besar masyarakat kita yang masih awam sangat mudah terpedaya oleh retorika pidato, gempuran media massa, maupun pencitraan di media sosial. Tingkat pendidikan yang belum merata membuat publik gampang tertipu oleh deretan gelar, baliho di jalanan, hingga bantuan sembako.
Bagi sebagian pihak, Soekarno dikenang sebagai pemimpin besar dengan pidato yang menggelegar. Namun, di mata ulama besar Buya Hamka, Soekarno sekadar gemar berpidato tanpa keunggulan dalam eksekusi nyata ketika rakyat menghadapi kelaparan.
Sejarah mencatat bahwa setelah tahun 1959, Soekarno mengubah tatanan menjadi demokrasi terpimpin yang menandai babak awal kediktatoran. Kebijakan otoriter tersebut berujung pada pemenjaraan sejumlah tokoh Islam dan sosialis, seperti Hamka, Mohammad Roem, Prawoto Mangkusmito, serta Mohammad Natsir.
Kepemimpinan nasional membutuhkan lebih dari sekadar retorika dan kemampuan menulis. Pemimpin ideal dituntut menguasai manajemen, memahami psikologi massa, serta menjadi teladan utama (uswah) bagi masyarakat.
Pemimpin yang diwarnai keretakan rumah tangga, gemar menggebrak meja, dan emosional dalam merespons kritik tentu sulit dijadikan teladan. Bangsa Indonesia yang berpenduduk 285 juta jiwa ini membutuhkan keteladanan konkret yang dapat memancar dari presiden hingga ke jajaran bawahannya.






