Adab Doa yang Mengubah Mustahil Menjadi Mungkin
Oleh: Imam Nur Suharno, Pembina Korps Mubaligh Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat.
Ada saatnya kita merasa lelah berdoa setelah bertahun-tahun meminta dan menangis di sepertiga malam, namun pintunya belum juga terbuka. Tepat di titik itulah Allah Swt. ingin menguji seberapa besar keyakinan dan kesabaran kita kepada-Nya.
Lihatlah kisah Nabi Zakaria a.s. yang tetap berdoa meski usianya telah senja dan istrinya mandul, di mana secara logika manusia terasa mustahil memiliki anak. Al-Qur’an merekam doa beliau: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri.”
Allah Swt. kemudian menjawab doa tersebut dengan mengaruniakan seorang nabi bernama Yahya a.s. Hal itu terjadi karena Nabi Zakaria a.s. tidak pernah berhenti mengetuk pintu langit.
Dari kisah tersebut, kita dapat mempelajari tujuh kunci adab agar doa kita dikabulkan oleh Allah Swt.
Pertama, datanglah dengan rasa lemah dan bukan merasa kuat. Allah Swt. tidak membutuhkan kehebatan kita, melainkan menyukai rintihan tangis hamba-Nya. Semakin kita merasa tidak memiliki apa-apa, semakin dekat kita dengan pertolongan-Nya sebagai bentuk penyerahan penuh kendali kepada Allah Swt.
Kedua, sebutkan nikmat-nikmat Allah Swt. sebelum meminta sebagai bentuk tawassul. Ungkapkan dalam doa: “Ya Allah, Engkau yang dulu menolongku saat aku bangkrut dan menyembuhkanku saat sakit, maka tolonglah aku kali ini.” Cara ini mengingatkan hati kita bahwa Dzat yang dulu mengabulkan doa adalah Dzat yang sama yang akan mengabulkan permintaan kita saat ini.
Ketiga, jangan pernah meremehkan permintaan kecil dalam berdoa. Allah Swt. Mahakuasa untuk mewujudkan segala sesuatu yang kita minta, bahkan hal yang dianggap mustahil bagi manusia sangatlah mudah bagi-Nya.
Keempat, mintalah hal yang berkah dan bukan sekadar banyak. Nabi Zakaria a.s. tidak meminta harta, melainkan meminta keturunan yang saleh. Doa dari anak yang saleh akan terus mengalir pahalanya meskipun kita sudah berada di liang kubur.
Kelima, jangan menutup harapan hanya karena satu pintu terlihat tertutup. Gagal dalam usaha atau belum mendapatkan pekerjaan bukanlah tanda Allah Swt. benci, melainkan tanda bahwa Dia sedang menyiapkan pintu yang lebih baik. Tugas kita adalah untuk terus mengetuk dan tidak berhenti berharap.
Keenam, jadikan doa sebagai kebutuhan hidup sehari-hari dan bukan sekadar formalitas acara. Jangan menunggu memiliki masalah baru bersujud, melainkan jadikan doa seperti kebutuhan minum yang langsung diminta saat merasa haus. Orang yang paling dekat dengan Allah Swt. adalah orang yang paling sering berkomunikasi dengan-Nya.
Ketujuh, syukuri setiap ijabah dengan bertasbih agar nikmat tersebut tidak dicabut. Setelah doa dikabulkan, jangan lupa mengucapkan Alhamdulillah dan senantiasa bertasbih. Sikap syukur ini akan menjadi magnet yang mendatangkan nikmat-nikmat lainnya dari Allah Swt.
Mungkin hari ini doa kita belum terjawab, namun langit sedang mencatat setiap tetes air mata dan malaikat mengaminkan setiap bisikan doa yang lirih. Ingatlah kaidah bahwa semakin doa itu ditujukan untuk kebaikan akhirat, maka akan semakin cepat dikabulkan.
Jika kita meminta ketenangan, kesabaran, keistiqamahan, dan anak yang saleh, maka bersiaplah karena jawabannya sedang dalam perjalanan. Jangan pernah berhenti berdoa karena bisa jadi satu sujud berikutnya adalah sujud pengabulan doa kita. Pintu langit tidak pernah dikunci bagi hamba yang tidak pernah lelah berharap kepada-Nya.[]





