Refleksi Maulid di Tengah Budaya ‘Scroll’: Saat Snouck Membaca Nabi, Apa yang Kita Baca?
Oleh: Fajri, Guru dan Alumnus Pascasarjana UIN Ar-Raniry
Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, kisah kehidupan Nabi Muhammad saw. kembali terdengar di mana-mana. Perjalanan hidup beliau gaung dari kelahiran, kejujuran, dakwah, kesabaran menghadapi penolakan, hingga hijrah ke Madinah.
Salawat dilantunkan dan pelbagai ceramah digelar secara masif. Kisah keagungan Nabi Muhammad saw. memenuhi masjid, sekolah, majelis taklim, gedung pemerintahan, hingga linimasa media sosial.
Rangkaian peringatan tersebut sangat baik untuk menjaga memori kolektif umat. Namun, di tengah rutinitas tahunan itu, penting bagi kita untuk mengajukan pertanyaan mendasar: seberapa jauh sebenarnya kita sungguh-sungguh mengenal sosok Rasulullah saw.?
Pertanyaan ini relevan ketika mengingat Christiaan Snouck Hurgronje, orientalis Belanda yang mempelajari Islam secara mendalam. Ia membaca berbagai sumber, mengamati tradisi Muslim, dan memanfaatkan pengetahuannya untuk kepentingan kajian serta strategi kolonial Belanda di Aceh.
Selama berada di Makkah, Snouck menjalin korespondensi dengan Muhammad Nashif untuk memperoleh buku kehidupan Nabi Muhammad saw. Dalam salah satu suratnya, ia mengaku telah membaca jilid-jilid sirah tersebut dengan saksama hingga selesai.
Kisah ini menyajikan fakta unik: seorang orientalis non-Muslim menyempatkan diri membaca perjalanan hidup Nabi Muhammad saw. secara serius.
Kita tentu tidak menjadikan Snouck sebagai teladan karena kepentingan politiknya yang kompleks. Namun, metode kerjanya patut direnungkan; ia berusaha memahami sesuatu melalui tradisi membaca yang tekun.
Di sinilah timbul sebuah ironi sejarah yang nyata. Seorang non-Muslim merasa perlu membaca kehidupan Nabi Muhammad saw. secara utuh, sedangkan umatnya sendiri yang saban tahun merayakan Maulid belum tentu menyediakan waktu untuk membaca sirah beliau.
Maka, pertanyaan penting pada momen Maulid bukan sekadar seberapa banyak kita bersalawat. Lebih dari itu, seberapa serius kita membaca perjalanan hidup Rasulullah saw.?
Umat Islam di Tengah Melimpahnya Informasi
Generasi terdahulu harus bersusah payah mendatangi perpustakaan atau membeli kitab untuk mempelajari sirah. Saat ini, akses informasi keagamaan telah tersedia sangat melimpah dalam genggaman jemari.
Cukup memasukkan kata kunci sirah Nabi Muhammad saw. di mesin pencari, ribuan literatur langsung bermunculan. Di media sosial, potongan video ceramah dan kutipan hadits dapat diakses dengan amat mudah.
Informasi mengenai Rasulullah saw. tidak pernah semelimpah hari ini. Namun, kondisi tersebut justru mendatangkan tantangan baru bagi kualitas pemahaman umat.
Kita mungkin semakin sering melihat potongan konten tentang Nabi Muhammad saw., tetapi jarang membaca perjalanan hidup beliau secara utuh. Keteladanan mensyaratkan pengetahuan yang komprehensif, bukan sekadar potongan kutipan tanpa konteks.
Tanpa pemahaman yang utuh, sosok Rasulullah saw. berisiko hadir sekadar sebagai kumpulan kutipan populer. Padahal, bagaimana mungkin kita dapat meneladani seseorang yang tidak kita kenal sejarah hidupnya secara mendalam?






