Maulid di LBH Keadilan Rakyat: Serukan Umat Ikuti Ulama untuk Selamatkan Bangsa

Bogor (Suaraislam.id) — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kantor LBH Keadilan Rakyat, Jalan Brigjen Saptadji Hadiprawira, Cilendek Barat, Kota Bogor, Senin (7/9/2026), tidak sekadar menjadi seremoni keagamaan. Dari mimbar maulid, ulama dan tokoh masyarakat menyerukan penyelamatan bangsa dari berbagai ancaman yang dinilai kian menggerus martabat Indonesia.
Mengusung tema “Mencintai Sesama dalam Rangka Mencintai Nabi”, acara tersebut dihadiri unsur pemerintah, tokoh agama, aktivis dan masyarakat sebagai ajang menguatkan persatuan umat sekaligus refleksi atas kondisi bangsa.
Lurah Cilendek Barat, Otong Soekandar, mengapresiasi penyelenggaraan Maulid Nabi di lingkungan LBH Keadilan Rakyat. Ia menilai kegiatan keagamaan memiliki peran strategis dalam membangun ketahanan sosial masyarakat.
Dalam sambutannya, Otong mengajak seluruh elemen warga menjaga Kota Bogor, khususnya Cilendek Barat, dari berbagai penyakit masyarakat yang merusak generasi.
“Mari kita jaga wilayah kita hal-hal yang merusak seperti dari narkoba, LGBT, judi online, dan berbagai penyakit masyarakat lainnya. Semoga momentum Maulid ini menghadirkan perlindungan dan keberkahan Allah SWT bagi Cilendek Barat,” ujarnya.
Pembina LBH Keadilan Rakyat, Iwan Sumiarsa, dalam sambutannya mengutip firman Allah dalam Surah Yunus ayat 58 sebagai dasar kegembiraan seorang mukmin dengan kehadiran Nabi Muhamamd SAW.
“Katakanlah (Muhammad), dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus: 58)
Menurut Iwan, berdasarkan Tafsir Al-Jailani yang dinisbatkan kepada Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dan dijelaskan Prof. Dr. Muhammad Fadhil Al-Jailani, karunia Allah adalah hadirnya Rasulullah SAW sebagai pembimbing umat, sedangkan rahmat-Nya adalah Al-Qur’an sebagai petunjuk kehidupan.
“Kita bergembira karena Allah mengutus Rasulullah SAW membawa Al-Qur’an. Dengan bimbingan Rasul dan tuntunan Al-Qur’an, manusia tidak akan tertipu oleh hawa nafsu dan kecintaan berlebihan kepada dunia,” katanya.
Lebih jauh, Iwan menegaskan bahwa sejarah Maulid bukan sekadar tradisi membaca syair, melainkan lahir sebagai strategi kebangkitan umat. Ia mengisahkan bagaimana Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi membangkitkan semangat jihad umat Islam melalui sayembara syair yang kemudian dimenangkan Syekh Al-Barzanji, hingga kitab Barzanji dibacakan di masjid-masjid untuk membangun ruh perjuangan menyelamatkan Baitul Maqdis dan penyatuan wilayah Islam.
“Maulid lahir dari seorang pemimpin untuk membangkitkan ruhul jihad. Hari ini seharusnya Presiden atau Panglima TNI mampu membangkitkan semangat itu demi menyelamatkan bangsa dari berbagai ancaman yang merusak Indonesia,” tegasnya.
Ceramah utama disampaikan Pimpinan Majelis Al-Ihya Bogor, KH Chaerul Saleh, yang mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan Maulid bukan ramainya acara, tetapi berubahnya kualitas iman, ilmu, ibadah, akhlak, dan persatuan umat.
Ia menyesalkan kenyataan bahwa setiap tahun Maulid diperingati secara meriah, namun kondisi umat dinilainya tidak banyak berubah.
“Harusnya setelah Maulid akidah makin kuat, ilmu bertambah, ibadah meningkat, akhlak membaik, dan persatuan umat semakin kokoh dan kondisi bangsa semakin baik. Kalau tidak ada perubahan, berarti ada yang salah dengan diri kita,” ujarnya.
Ulama yang akrab disapa Babah Chaerul itu mengibaratkan iman sebagai air di tengah tanah gersang yang mati. Menurutnya, hati manusia hanya dapat hidup kembali hidup melalui nasihat agama dari para ulama dan majelis ilmu.





