PKKMB STIT Insan Kamil, Iwan Sumiarsa Ajak Mahasiswa Kritis dan Berprestasi
Bogor (Suaraislam.id) – Pembina Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Keadilan Rakyat, Dr. Iwan Sumiarsa, mengajak mahasiswa baru STIT Insan Kamil Kota Bogor menjadi generasi yang kritis, berprestasi, dan memiliki kesadaran kebangsaan sebagai wujud nyata membela Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Pesan tersebut disampaikan Iwan saat menjadi pemateri dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2026 yang dirangkaikan dengan Wisuda Tahfidz STIT Insan Kamil, Kota Bogor, Selasa (15/9/2026).
PKKMB tahun ini mengusung tema “Membentuk Kader Insan Kamil yang Beriman, Terdidik, dan Berdaya Saing Global untuk Umat dan Bangsa.”
Dalam materinya, Iwan menjelaskan bahwa jati diri kehidupan berbangsa dan bernegara tidak lahir secara instan, melainkan melalui perjuangan panjang rakyat Indonesia melawan penjajahan.
Menurutnya, sebelum Indonesia merdeka, wilayah Nusantara terdiri atas berbagai kerajaan dan kesultanan yang berdiri sendiri. Justru pengalaman dijajah oleh kekuatan asing menjadi wasilah yang menyatukan berbagai suku, budaya, dan wilayah menjadi satu bangsa.
“Penjajahan menjadi titik lahirnya persatuan Indonesia. Dari bangsa yang sebelumnya terpisah dalam berbagai kerajaan, akhirnya bersatu menjadi NKRI yang kita kenal sebagai harga mati,” ujarnya.
Ia menambahkan, kesamaan budaya, karakter, dan nasib sebagai bangsa terjajah kemudian melahirkan ikrar bersejarah Sumpah Pemuda 1928 yang menjadi tonggak awal terbentuknya identitas bangsa Indonesia.
Iwan menjelaskan bahwa setelah bangsa Indonesia bersatu, para pendiri bangsa menyepakati pembentukan negara beserta konstitusinya melalui Undang-Undang Dasar 1945.
Menurutnya, esensi UUD 1945 bukan sekadar menyatakan Indonesia sebagai negara merdeka, tetapi juga menetapkan tujuan utama negara, yakni mewujudkan keadilan, kemakmuran, dan perlindungan bagi seluruh rakyat.
“Negara berkewajiban melindungi segenap bangsa melalui pendidikan, pelayanan kesehatan, kesejahteraan, serta keamanan dan ketertiban nasional,” jelasnya.
Karena itu, ia menegaskan bahwa hubungan negara dan rakyat harus dipahami sebagai hubungan timbal balik antara hak dan kewajiban.
Di hadapan mahasiswa baru, Iwan menekankan bahwa bentuk perjuangan generasi saat ini bukan lagi mengangkat senjata, melainkan mengisi kemerdekaan melalui pendidikan dan prestasi.
Ia mengajak mahasiswa menjadikan masa kuliah sebagai ruang mencetak kualitas intelektual dan moral demi menyongsong Indonesia Emas.
“Peran mahasiswa hari ini adalah belajar, berprestasi, dan melahirkan generasi cerdas yang mampu membawa Indonesia menjadi bangsa yang unggul,” katanya.
Iwan juga mengingatkan bahwa kewajiban membela negara memiliki bentuk yang relevan dengan tantangan zaman digital.
Menurutnya, salah satu implementasi bela negara saat ini adalah tidak mudah terprovokasi informasi palsu maupun ikut menyebarkan hoaks yang berpotensi memecah belah persatuan nasional.
“Semua rakyat berhak dan wajib membela negara. Wujud nyatanya hari ini adalah jangan mudah percaya hoaks dan jangan menjadi pembuat hoaks,” tegasnya.
Selain menyoroti kewajiban warga negara, Iwan mengajak mahasiswa mengkritisi sejauh mana negara telah menjalankan kewajibannya melindungi rakyat.
Ia mengajukan sejumlah pertanyaan reflektif kepada peserta PKKMB: apakah mahasiswa merasa aman ketika pulang kuliah pada malam hari, apakah pelayanan kesehatan mudah diakses saat sakit, dan apakah biaya pendidikan tinggi benar-benar memberi kesempatan yang adil bagi seluruh anak bangsa.
“Jangan hanya bicara kewajiban rakyat membela negara. Negara juga wajib menghadirkan perlindungan yang nyata bagi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Menutup paparannya, Iwan menegaskan bahwa ukuran sebuah negara yang aman dan tertib bertumpu pada dua pilar utama, yakni keadilan dan kemakmuran.
Menurutnya, masyarakat akan merasa aman apabila keadilan ditegakkan, sementara ketenangan sosial akan terwujud ketika kesejahteraan dirasakan secara merata.
“Kalau rakyat ingin aman, tunjukkan keadilan. Kalau rakyat ingin tenang, penuhi kesejahteraan dan wujudkan kemakmuran. Di situlah stabilitas nasional akan terjaga,” katanya.
Ia berharap mahasiswa tidak hanya menguasai teori di ruang kuliah, tetapi juga memiliki keberanian berpikir kritis untuk menguji teori dengan realitas sosial di sekitarnya, sehingga lahir sebagai intelektual yang peka terhadap persoalan umat, bangsa, dan negara. []






