OPINI

Bisakah Sebuah Partai Berhaluan Kiri Sekaligus Zionis?

Jawabannya adalah tidak bisa. Namun, konsep "Zionisme Kiri" terus dipaksakan untuk menutupi sifat rasis dan kolonialnya.

Oleh: Tamam Abusalama, Profesional advokasi, komunikasi, dan kampanye berkebangsaan Palestina-Belgia, yang saat ini memimpin Inisiatif Warga Eropa “Justice for Palestine”.

Menjelang pemilihan umum Israel pada 27 Oktober, Israel’s Young Democrats—sayap pemuda dari Partai Demokrat yang baru dibentuk—sedang mencari sekutu luar negeri. Mereka baru-baru ini mengumumkan kampanye bersama dengan Young Greens of Austria untuk mendukung “suara-suara progresif di lapangan dan bekerja sama menuju perdamaian yang berkelanjutan”.

Sementara itu, kelompok pemuda lain yang digambarkan sebagai “sayap kiri”, Hamahanot Haolim (The Ascending Camps), sedang mengeksplorasi rencana pembangunan kibbutz baru di Tepi Barat yang diduduki, dekat Yerikho.

Ketika dipertanyakan mengenai dampaknya terhadap populasi Palestina, direktur kelompok tersebut, Ilan Gazit, menjelaskan bahwa karena permukiman Israel tetap dibangun bagaimanapun juga, “sayap kiri” harus memastikan bahwa kelompok “kiri” Israel-lah, bukan pemukim sayap kanan ekstrem, yang mendudukinya.

“Kami tidak malu dengan hal ini, dan kami tidak menyembunyikannya,” katanya.

Kedua gerakan pemuda ini beserta para simpatisan luar negeri mereka tampaknya memperlakukan “Zionisme Kiri” sebagai identitas politik yang koheren. Namun, bisakah sebuah partai, gerakan, atau individu menjadi berhaluan kiri sekaligus Zionis?

Jawaban singkatnya, dari perspektif Palestina dan anti-kolonial, adalah tidak. Lalu mengapa hal itu dijajakan di Israel dan luar negeri sebagai keyakinan ideologis yang sah?

Sebab, hal tersebut merupakan teknologi politik yang dirancang untuk melindungi Zionisme dari segala kritik sekaligus mempertahankan struktur penindasan.

Pertanyaan yang Memiliki Sejarah

Pertanyaan mengenai kelayakan “Zionisme Kiri” bukanlah hal baru. Zionisme muncul sebagai gerakan nasionalis Yahudi terorganisasi di Eropa pada abad ke-19.

Inti tujuannya adalah mendirikan tanah air nasional Yahudi, sebuah gagasan yang dibentuk oleh nasionalisme Eropa, anti-Semitism Eropa, dan ekspansi kolonial.

Arsitek politik awalnya memajukan dua proyek yang saling terhubung: meredefinisi Yudaisme sebagai identitas nasional dan mengolonisasi Palestina. Theodor Herzl, seorang jurnalis Yahudi Hungaria yang dipandang sebagai pendiri Zionisme, tidak didorong oleh semangat keagamaan karena ia menganut sekularisme, melainkan oleh berkembangnya anti-Semitism di Eropa.

Setelah kematian Herzl pada tahun 1904, gagasan-gagasan kiri memasuki gerakan ini seiring dengan dominasi berbagai faksi sosialis dalam Organisasi Zionis Dunia dan komunitas pemukim awal di Palestina.

Namun, elemen-elemen kiri ini tidak didorong oleh komitmen sejati terhadap perjuangan berbasis kelas dan internasionalisme. Sebaliknya, mereka menggunakan kosakata sosialis untuk membenarkan proyek pembangunan negara kolonial pemukim melalui kibbutzim, serikat buruh, dan diplomasi.

Apa pun posisi yang diambil oleh para Zionis awal dalam spektrum politik, apa yang akhirnya dihasilkan oleh gerakan tersebut—Negara Israel—berentangan langsung dengan politik anti-kolonial dan anti-rasisme yang seharusnya diperjuangkan oleh sayap kiri.

1 2 3Laman berikutnya
Back to top button