Ancam Kesehatan Fisik dan Mental, Hindari Kebiasaan Tidur di Atas Jam 12 Malam
Jakarta (Suaraislam.id) – Kebiasaan tidur terlalu larut atau melewati pukul 12 malam dapat mengganggu ritme sirkadian dan merusak tahapan tidur yang krusial bagi tubuh.
“Waktu tidur harus selaras dengan ritme sirkadian Anda. Tidur di luar siklus ini berpotensi menurunkan kualitas tidur dan meningkatkan risiko masalah kesehatan,” kata konsultan tidur sekaligus ahli neurosains, Chelsie Rohrscheib, Ph.D., dalam siaran Eating Well, Ahad (27/9/2026).
Ritme sirkadian merupakan jam biologis internal 24 jam yang mengatur siklus terjaga dan mengantuk seseorang. Selain itu, ritme ini membantu mengontrol produksi hormon, metabolisme, sistem kekebalan tubuh, hingga pemulihan sel.
Pencahayaan terang dan kondisi gelap menjadi dua sinyal utama yang menjaga siklus biologis ini tetap berjalan tepat waktu. Peneliti menunjukkan bahwa gangguan sirkadian kronis dapat memicu risiko penyakit jangka panjang.
“Orang yang terbiasa terjaga atau tidur pada jam yang tidak normal memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit kronis, seperti penyakit kardiovaskular, diabetes tipe 2, obesitas, demensia, dan depresi,” ujar Rohrscheib.
Selain ritme sirkadian, kebiasaan tidur larut malam juga mengganggu keseimbangan hormon melatonin dan kortisol. Melatonin bertugas memberi sinyal mengantuk yang puncaknya terjadi pada malam hari, sedangkan kortisol berfungsi sebagai hormon pemacu kesadaran alami yang meningkat di pagi hari.
“Melatonin berkurang ketika Anda mencoba tidur setelah tengah malam. Sementara itu, kadar kortisol mulai naik menjelang pagi sebagai ‘jam alarm’ alami tubuh,” kata pakar kedokteran tidur, Alex Dimitriu, M.D.
Dimitriu menjelaskan bahwa tidur larut malam mengikis fase slow-wave sleep (tidur gelombang lambat) yang biasanya terjadi pada paruh pertama malam. Fase ini sangat vital untuk menghasilkan tidur yang nyenyak.
Seseorang yang secara konsisten kekurangan tidur nyenyak cenderung merasa tidak segar saat bangun, terlepas dari durasi tidurnya. Dalam jangka panjang, kondisi ini memicu penurunan fungsi kognitif dan menghambat pemulihan fisik.
Guna menjaga ritme biologis tubuh, Rohrscheib menyarankan konsistensi jadwal tidur, pembatasan paparan sinar layar di malam hari, penyerapan sinar matahari pagi, serta penghentian konsumsi kafein setelah pukul 15.00.
“Jika ritme sirkadian Anda tetap tidak teratur meski telah berupaya memperbaikinya, hal itu bisa menjadi penanda adanya masalah medis yang perlu dikonsultasikan dengan spesialis tidur,” pungkas Rohrscheib.[]
Sumber: Antara






