MUHASABAH

Mengapa Manusia Baru Menyadari Nilai Sesuatu Setelah Kehilangan?

Oleh: Listiani (Mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Husnul Khotimah Kuningan)

Pernahkah kita memiliki sesuatu yang selalu hadir dalam kehidupan sehari-hari, tetapi baru menyadari betapa berharganya hal tersebut setelah kehilangannya? Kita mungkin baru merasakan pentingnya kehadiran seseorang ketika tidak lagi bisa bertemu dengannya. Fenomena ini menunjukkan bahwa manusia terkadang lebih mudah menyadari nilai sesuatu ketika keberadaannya tidak lagi dapat dinikmati.

Salah satu penyebab utamanya adalah kebiasaan. Sesuatu yang hadir secara terus-menerus sering kali dianggap sebagai hal yang biasa. Perhatian orang tua, kebersamaan dengan keluarga, kesehatan, dan waktu yang kita miliki perlahan-lahan kehilangan maknanya karena terlalu sering kita jumpai.

Dalam perspektif psikologi, fenomena ini dikaitkan dengan habituasi, yaitu penurunan respons emosional akibat paparan yang berulang. Ketika perhatian yang sama diterima setiap hari, kita tidak lagi meresponsnya sebesar saat pertama kali menerimanya. Akibatnya, sesuatu yang bernilai tinggi terasa biasa saja hanya karena kita telah terbiasa dengannya.

Selain kebiasaan, kecenderungan menunda untuk menghargai juga menjadi penyebab utama. Kita sering berpikir bahwa masih ada hari esok untuk mengucapkan terima kasih, meminta maaf, atau meluangkan waktu bersama orang-orang terkasih. Padahal, masa depan bukanlah sesuatu yang berada di bawah kendali manusia.

Fenomena ini kerap terlihat dalam hubungan antara anak dan orang tua. Ketika masih tinggal bersama, nasihat orang tua untuk menjaga kesehatan atau pulang tepat waktu terkadang dianggap membatasi kebebasan. Namun, ketika harus tinggal jauh dari rumah, perhatian-perhatian kecil itu justru terasa sangat berarti.

Islam mengajarkan bahwa setiap nikmat merupakan amanah yang perlu disyukuri dengan penuh kesadaran. Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an surah Ibrahim ayat 7:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat’.” (Q.S. Ibrahim: 7)

Ayat tersebut menegaskan pentingnya sikap syukur dalam kehidupan manusia. Syukur tidak cukup hanya diucapkan melalui lisan, tetapi juga perlu diwujudkan melalui tindakan nyata. Menghargai kehadiran orang tua, menjaga hubungan keluarga, serta memanfaatkan waktu secara bijaksana merupakan bentuk konkrit dari rasa syukur.

Rasulullah saw. juga mengingatkan umatnya untuk memanfaatkan nikmat sebelum datangnya keadaan yang menghilangkan kesempatan tersebut. Dalam Mustadrak al-Hakim, Rasulullah saw. bersabda:

اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفَرَاهَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.” (H.R. Al-Hakim)

1 2Laman berikutnya
BACA JUGA
Close
Back to top button