NUIM HIDAYAT

Manusia Merdeka

Oleh: Nuim Hidayat, Ketua Dewan Pertimbangan Dewan Da’wah Depok.

Meski bangsa kita sudah merdeka selama 81 tahun, kemerdekaan itu nampaknya baru dinikmati oleh sebagian kecil masyarakat. Sebagian besar masyarakat masih hidup dalam kemiskinan atau kondisi pas-pasan.

Manusianya pun banyak yang belum merdeka secara hakiki. Banyak rakyat Indonesia yang masih tunduk pada budaya dan hegemoni bangsa Barat. Mereka kagum terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di Barat, sehingga berkeinginan mengikuti sepenuhnya gaya hidup Barat. Mereka bermewah-mewahan tanpa memedulikan masyarakat sekitar yang masih hidup miskin.

Para pemimpin di negeri ini pun banyak yang silau terhadap kehidupan Barat. Mereka mengira bahwa Barat adalah simbol kemajuan, puncak pemikiran manusia, dan model kehidupan yang paling patut ditiru. Presiden Prabowo termasuk dalam kelompok ini.

Bila kita cermat mengamati Barat, kita akan menemukan kelemahan mendasar di sana. Barat memang maju secara ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi mereka mengalami kemunduran dalam pendidikan jiwa dan keluarga. Mereka gagal menciptakan perdamaian dunia dan gagal menjadi teladan bagi umat manusia.

Lihatlah dalam tragedi kemanusiaan di Gaza, Palestina. Israel—yang merupakan bagian tak terpisahkan dari poros Barat—secara brutal membunuh kaum Muslimin di sana. Korban jiwa bukan lagi ratusan, melainkan telah mencapai puluhan ribu orang (73 ribu jiwa). Melihat pembantaian yang terus berlangsung hingga kini, Amerika Serikat tidak berusaha menghentikannya, melainkan terus mengucurkan bantuan senjata kepada negara drakula Israel. Sementara itu, Inggris, Jerman, dan negara-negara Barat lainnya hanya menjadi penonton atau sebatas melontarkan kecaman tanpa aksi nyata. Tidak ada upaya paksa militer untuk menghentikan aksi brutal Israel hingga saat ini.

Manusia-manusia Barat sebenarnya adalah manusia yang bingung. Mereka bingung dengan kitab Bibel yang menjadi kitab suci mereka, sehingga banyak yang enggan beribadah ke gereja karena kesulitan memahami isinya. Di samping itu, di dalam Bibel sendiri terdapat banyak kekeliruan dan pertentangan.

Maka tidak mengherankan jika di Barat banyak penduduk yang menganut paham ateis. Data Pew Research Center menunjukkan bahwa kelompok tidak beragama—yang mencakup ateis, agnostik, dan orang yang mengaku tidak memiliki agama tertentu—mencapai sekitar 30 persen dari total penduduk. Di Belanda mencapai 48 persen, Norwegia 43 persen, Swedia 42 persen, Belgia 31 persen, Denmark 30 persen, dan Amerika Serikat 29 persen.

Banyak masyarakat yang tidak mau lagi pergi ke gereja, sehingga bangunan gereja menjadi kosong dan diperjualbelikan. Beberapa bangunan gereja tersebut kemudian dibeli oleh masyarakat Muslim dan dialihfungsikan menjadi masjid.

Sayyid Quthb, ulama besar Mesir yang pernah mengecap pendidikan di Amerika Serikat, menyatakan bahwa kehidupan manusia di Barat berjalan layaknya mesin. Terdapat kekeringan jiwa yang nyata di sana. Kehidupan mereka berorientasi pada materi seperti hewan: pagi bekerja, sore atau malam pulang, dan esok harinya bekerja kembali. Tidak ada rehat spiritual seperti salat atau pengajian di masjid sebagaimana dalam budaya Islam.

Sistem pendidikan mereka hanya menekankan aspek akal, sehingga jiwanya merana dan kotor. Akibatnya, membunuh manusia lain dianggap sebagai hal biasa dan menyiksa tawanan dianggap bukan dosa. Amerika Serikat dan Israel cerdas otaknya, tetapi kerdil jiwanya—pintar, namun jahat.

Al-Qur’an menyatakan:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Dan sungguh, Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami; mereka mempunyai mata, tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat; dan mereka mempunyai telinga, tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar. Mereka seperti hewan ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf [7]: 179)

أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ ۚ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ ۖ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا

“Ataukah engkau mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka hanyalah seperti hewan ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya.” (QS. Al-Furqan [25]: 44)

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا

“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tidak memikulnya (tidak mengamalkannya), adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal.” (QS. Al-Jumu’ah [62]: 5)

إِنَّ اللَّهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَّهُمْ

“Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang yang kafir bersenang-senang dan makan seperti hewan ternak makan, dan nerakalah tempat tinggal bagi mereka.” (QS. Muhammad [47]: 12)

1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button