Kreativitas Pemimpin, Kunci Kemajuan Organisasi dan Umat
Pemimpin yang kreatif akan membawa organisasinya pada jalur kemajuan. Sebaliknya, pemimpin yang tidak kreatif hanya akan menjebak organisasinya dalam kemandekan.
Saya pernah bertemu dengan beberapa pemimpin yang kreatif. Salah satunya adalah mantan pemimpin gerakan Islam di Indonesia yang kreativitasnya sangat menonjol. Ia selalu berpikir cara agar murid-muridnya cerdas dan memahami perkembangan zaman.
Ribuan buku bacaan melimpah di rumahnya, baik dalam bahasa Arab, Inggris, maupun Indonesia. Ia tidak hanya pandai bercerita, tetapi juga sangat produktif dalam melahirkan karya tulis.
Di bawah bimbingannya, para murid tumbuh menjadi pribadi yang haus akan ilmu. Mereka juga sangat mencintai jalan dakwah serta peduli pada pembangunan kapasitas manusia.
Sosok teladan lain ada di Mojokerto, Jawa Timur, yakni Ketua Dewan Dakwah Jawa Timur, Kiai Fathur Rohman. Ia adalah seorang dai sukses sekaligus pemimpin yang sangat kreatif.
Ia berhasil mendirikan Pesantren Elkisi pada tahun 2010. Kini, pesantren tersebut telah mendidik sekitar seribu santri. Ia mampu membimbing jemaahnya untuk bergotong royong mengembangkan pesantren tersebut.
Kini, Pesantren Elkisi telah menjalin jaringan dengan beberapa kampus, termasuk Universitas Al-Azhar di Kairo. Pesantren ini juga telah memiliki lahan yang sangat luas, mencapai sekitar 30 hektare.
Pemimpin yang kreatif pasti akan mendorong anak buahnya untuk ikut kreatif. Ia selalu memberikan kesempatan kepada anggotanya untuk bersuara dan berani berinovasi.
Pemimpin semacam ini selalu berorientasi pada pencapaian prestasi yang setinggi-tingginya. Ia senantiasa memiliki keinginan kuat untuk memberikan hasil yang terbaik bagi umat.
Pakar manajemen Peter F. Drucker dikenal luas melalui pemikirannya tentang efektivitas organisasi dan inovasi. Ia menempatkan inovasi sebagai salah satu instrumen terpenting bagi organisasi untuk merespons perubahan zaman.
Dalam bukunya, Innovation and Entrepreneurship (1985), Drucker membahas inovasi sebagai sebuah proses. Ia menegaskan bahwa inovasi dapat dipelajari dan dikelola secara sistematis, bukan sekadar hasil inspirasi sesaat.
Pemikiran ini sangat relevan dan penting bagi seorang pemimpin. Kreativitas memang dapat muncul secara spontan, tetapi organisasi tidak boleh pasif hanya menunggu datangnya ilham.
Pemimpin perlu proaktif membangun lingkungan kerja yang kondusif. Lingkungan itu harus memungkinkan sebuah gagasan baru untuk muncul, diuji, diperbaiki, dan diterapkan secara nyata.





