NUIM HIDAYAT

Kreativitas Pemimpin, Kunci Kemajuan Organisasi dan Umat

Artinya, kreativitas harus menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya organisasi. Rapat tidak sekadar menjadi tempat menyampaikan laporan kegiatan. Forum tersebut harus menjadi ruang aman untuk mempertanyakan cara kerja yang dirasa sudah tidak efektif.

Evaluasi dalam organisasi kreatif juga memiliki makna yang berbeda. Evaluasi tidak lagi bertujuan mencari siapa yang bersalah, melainkan berfokus untuk menemukan hal apa yang perlu diperbaiki.

Selain itu, pemimpin yang kreatif tidak akan pernah alergi terhadap kritik. Ia sangat memahami bahwa gagasan-gagasan terbaik terkadang justru muncul dari ide para bawahan.

Ide brilian sering kali lahir dari anggota organisasi di lapangan. Mereka adalah pihak atau masyarakat yang berhadapan langsung dengan urat nadi persoalan sehari-hari.

Di sinilah kreativitas sangat membutuhkan sebuah keberanian intelektual. Pemimpin harus berani mengakui jika keputusan sebelumnya mungkin sudah tidak lagi relevan atau kurang tepat.

Ia juga perlu terus membuka diri terhadap hal-hal baru di luar kebiasaannya. Pemimpin harus senantiasa peka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, serta dinamisnya perubahan kebutuhan di tengah masyarakat.

Namun, kreativitas bukan berarti mengubah segala sesuatu tanpa adanya pertimbangan yang matang. Setiap gagasan harus diuji secara terukur berdasarkan tujuan, manfaat, biaya, risiko, serta dampaknya terhadap orang lain.

Jika kreativitas tidak disertai dengan pertimbangan rasional, hasilnya akan berujung sia-sia. Hal tersebut justru berpotensi melahirkan kebijakan yang prematur dan tidak efektif.

Gagasan terobosan tidak akan pernah tumbuh subur dalam organisasi yang membuat anggotanya takut berbicara. Jika setiap kesalahan langsung dihukum, anggota organisasi perlahan akan memilih untuk diam.

Begitu pula jika setiap perbedaan pendapat selalu dicurigai sebagai sebuah pembangkangan. Pada akhirnya, tidak akan pernah muncul ide atau gagasan baru yang dapat memajukan organisasi tersebut.

Oleh karena itu, pemimpin perlu membangun suasana yang solid guna mendorong keterbukaan. Setiap anggota tim harus memiliki kesempatan yang sama untuk menyampaikan gagasan segar mereka.

Ruang kebebasan berpendapat itu harus tetap dijamin secara proporsional. Termasuk ketika pendapat mereka bertolak belakang dengan pandangan sang atasan.

Amy Edmondson, profesor kepemimpinan dan manajemen di Harvard Business School, pernah mengembangkan sebuah konsep menarik. Ia memperkenalkan konsep psychological safety atau keamanan psikologis.

Dalam penelitiannya yang diterbitkan pada 1999, Edmondson menunjukkan pentingnya keyakinan bersama dalam sebuah tim. Tim harus diyakini sebagai lingkungan yang aman untuk mengambil risiko interpersonal.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
BACA JUGA
Close
Back to top button