Kreativitas Pemimpin, Kunci Kemajuan Organisasi dan Umat
Risiko interpersonal ini mencakup beberapa sikap keterbukaan tanpa rasa terancam. Contohnya seperti keberanian mengajukan pertanyaan, mengakui kesalahan secara jantan, hingga kelugasan menyampaikan persoalan.
Konsep tersebut sangat relevan dengan prinsip kreativitas dalam kepemimpinan Islam. Orang akan lebih berani menawarkan ide ketika mereka merasa aman secara psikologis.
Mereka tidak perlu merasa khawatir atau takut akan dipermalukan di depan umum. Terutama, hanya karena pendapat atau gagasan mereka berbeda dari pandangan mayoritas.
Seorang pemimpin yang kreatif juga tidak takut untuk berhubungan dengan siapa pun. Ia selalu memiliki kerendahan hati dan semangat untuk mengambil hikmah dari setiap lawan bicaranya.
Ia memiliki kemampuan analisis yang tajam dalam berkomunikasi. Ia dapat menyaring dengan bijak mana pendapat yang layak diambil dan mana yang harus dibuang.
Berangkat dari pemikiran tersebut, saya menyusun rumusan penting tentang tujuan pendidikan Islam. Tujuan utamanya adalah membentuk generasi anak bangsa yang saleh, cerdas, dan kreatif.
Kreativitas sangat mutlak dibutuhkan apabila umat Islam ingin menjadi pemimpin peradaban. Umat ini tidak mungkin mampu memimpin negara atau dunia apabila kreativitasnya minim dan ide-idenya usang.
Pemimpin yang buruk cenderung lebih mencintai harta atau jabatan ketimbang ilmu pengetahuan. Sifat egois, tidak mau berkorban, dan merasa diri paling hebat juga menjadi racun utama dalam kepemimpinan.
Sikap tidak mau mendengarkan orang lain membuat seseorang menjadi buta akan realitas. Ia tidak sadar bahwa ada banyak orang hebat di luar dirinya, karena setiap insan pasti memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing.
Seorang pemimpin yang kreatif sangat cerdas membedakan mana ide yang terbaik dan mana yang buruk. Ia mampu menyeleksi beragam ide tersebut sebelum diterapkan secara strategis dalam organisasinya.
Kemampuan seleksi ide ini menjadi salah satu kunci utama keberhasilan memimpin. Tujuannya tentu agar organisasi yang dipimpinnya dapat tumbuh kokoh menjadi yang terbaik.
Al-Qur’an berpesan,
الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang terbaik. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah ulil albab (kaum terpelajar).” []
Nuim Hidayat, Direktur Forum Studi Sosial Politik





