Pemimpin Palsu vs Pemimpin Sejati (2)
Jokowi adalah pemimpin palsu. Fadli Zon saat menjadi anggota DPR menyebut Jokowi sebagai pemimpin boneka. Banyak kalangan menilai ia berada di bawah pengaruh Luhut Binsar Pandjaitan cs. Luhut berperan aktif memindahkan Jokowi dari Solo ke Jakarta hingga menjadikannya presiden, sehingga kerap dijuluki sebagai ‘Perdana Menteri’.
Beberapa pengamat politik menilai bahwa pada masa pemerintahannya terjadi proses deislamisasi dan dehabibisasi. Pemerintah membubarkan ormas Islam seperti FPI (Front Pembela Islam) dan HTI (Hizbut Tahrir Indonesia). Selain itu, sejumlah tokoh dan aktivis Islam seperti Habib Rizieq, Munarman, Farid Okbah, Zain an-Najah, serta Anung al-Hamad sempat dipenjara. Kasus tewasnya enam pemuda anggota FPI yang mengawal Habib Rizieq juga terus menjadi sorotan publik.
Sebagai mantan pebisnis mebel, program prioritas yang diusungnya berfokus pada pembangunan infrastruktur. Dalam menghadapi dinamika politik, ekonomi, budaya, dan ideologi yang rumit, kebijakan pemerintah sangat bergantung pada masukan dari lingkaran terdekatnya.
Sikap tidak konsisten juga menjadi catatan tersendiri dalam rekam jejak kepemimpinannya. Pada 8 Desember 2018 di Bogor, ia sempat menyatakan bahwa anak-anaknya tidak berminat masuk ke dunia politik.
“Kalau saya lihat, sebagai bapaknya anak-anak, Gibran ini belum, feeling politiknya belum, masih senang 100 persen di dunia usaha. Feeling politiknya belum. Kelihatannya belum ingin masuk. Kaesang apalagi, masih senangnya buka sini,” ujar Jokowi kala itu.
Namun, dinamika politik berkembang hingga Kaesang ditunjuk menjadi Ketua Umum PSI dan Gibran menjadi Vice President/Wakil Presiden. Menantunya, Bobby Nasution, juga menjabat sebagai Wali Kota Medan, yang memicu tuduhan pembentukan dinasti politik dari sejumlah pengamat.
Perubahan sikap juga terlihat dalam proyek mobil Esemka. Pada tahun 2015, Esemka digadang-gadang sebagai mobil nasional, namun pada tahun 2018 pendekatannya berubah.
“Tugas pemerintah hanya itu. Setelah jadi, ya diserahkan kepada industri, mau diproduksi atau tidak produksi, ya bukan urusan kita lagi,” jelasnya ketika dikonfirmasi wartawan. Ia menambahkan, “Masak Presiden buat pabrik dan bikin mobil Esemka sendiri.”
Di akhir masa jabatannya, beban utang pemerintah tercatat mencapai Rp8.473,90 triliun. Angka ini meningkat dibandingkan posisi utang luar negeri pada tahun 2014 sebesar Rp2.608 triliun.
Prabowo Subianto
Ditinjau dari nilai-nilai Islam, sebagian pengamat politik Islam menilai Prabowo belum memenuhi kriteria pemimpin ideal. Berbagai aspek mendasar terkait komitmen dan perilaku kepemimpinan masih terus mendapat perhatian publik. (Baca: Prabowo, Antara Harapan dan Kecemasan – SUARAISLAM.ID).
Kendati demikian, pendekatan politik dan wawasan keislaman Prabowo dinilai lebih terbuka. Pemerintahannya tidak menjadikan program ‘deradikalisasi’ sebagai fokus utama dan cenderung merangkul berbagai elemen masyarakat.
Dalam ranah penegakan hukum, penunjukan Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri mendapat apresiasi dari sebagian kalangan umat. Ia dikenal memiliki latar belakang keagamaan yang baik dan mampu menyampaikan khutbah Jumat.
Latar belakang pendidikan serta pengalaman hidup di dunia Barat memengaruhi orientasi kebijakan dan pemikirannya dalam memajukan Indonesia. Mengusung aliran sosialisme seperti ayahnya, ia meluncurkan program MBG (Free Nutritious Meal) serta mendorong kerja sama dengan lembaga pendidikan Barat.






