NUIM HIDAYAT

Keseriusan Prabowo dalam Mendukung Palestina Dipertanyakan: Kasus Kelapa Sawit dan Bocelli

Gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS), baru-baru ini meluncurkan fakta-fakta yang cukup menggegerkan. Mereka menemukan fakta, bahwa pemerintah Indonesia ’diam-diam’ telah mengizinkan ekspor kelapa sawit dalam jumlah besar ke Israel.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor sawit beserta produk turunannya ke Israel pada 2023 mencapai sekitar 29.605 ton dengan nilai 28,06 juta dolar AS. Pada 2024, volumenya tercatat sekitar 22.357 ton dengan nilai 22,46 juta dolar AS. Sementara itu, sepanjang Januari–Agustus 2026, ekspor tersebut mencapai sekitar 10.406 ton dengan nilai 12,34 juta dolar AS.

Ditemukan fakta bahwa sekitar 71 persen kebutuhan CPO (Crude Palm Oil/minyak kelapa sawit mentah) berasal dari Indonesia. Padahal pasar Israel hanya menyerap kurang dari 0,12% dari total ekspor CPO Indonesia. Tujuan ekspor CPO Indonesia yang terbesar adalah India, disusul Spanyol dan Belanda (2025). Namun, untuk seluruh produk sawit, bukan hanya CPO, China menjadi pasar utama Indonesia.

CPO adalah bahan baku untuk membuat minyak goreng, margarin, lemak nabati, biodiesel, sabun, kosmetik, serta berbagai produk industry lainnya.

Pada 2025, nilai perdagangan Indonesia dengan Israel tercatat sekitar US$289,59 juta, terdiri atas ekspor Indonesia ke Israel sebesar US$250,18 juta dan impor dari Israel sebesar US$39,41 juta. Sementara itu, total perdagangan luar negeri Indonesia dengan seluruh negara mencapai sekitar US$524,77 miliar. Artinya, perdagangan dengan Israel hanya sekitar 0,055% dari total perdagangan luar negeri Indonesia pada 2025.

BDS Indonesia telah mendesak kepada pemerintah agar menghentikan ekspor sawit ke Israel. Muhammad Syauqi Hafiz, Ketua Gerakan BDS Indonesia menyatakan bahwa kampanye “Stop Sawit ke Israel” merupakan bagian dari tuntutan yang lebih luas agar pemerintah Indonesia menghentikan hubungan dagang dengan Israel.

Seperti diketahui, meski Indonesia tidak punya hubungan diplomatik dengan Israel tapi Indonesia punya hubungan dagang dengan negara zionis ini. Di masa Presiden Gus Dur, ketika Luhut Binsar Pandjaitan menjabat sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan, ia menandatangani SK Menperindag No. 23/MPP/01/2001, yang menegaskan tidak adanya lagi hambatan hukum bagi perusahaan Indonesia untuk berdagang dengan perusahaan Israel.

Persoalan kedua, menyangkut rencana konser Andrea Bocelli di kompleks Candi Borobudur pada 31 Oktober 2026 dan di Jakarta pada 3 November 2026. Pemerintah kini resmi membolehkannya.

Padahal Majelis Ulama Indonesia, secara resmi telah menolak penyelenggaraan konser tersebut. Menurut MUI, Bocelli pernah tampil dalam acara penggalangan dana Friends of the Israel Defense Forces (FIDF) di Los Angeles pada 2010 dan menggelar konser di Tel Aviv pada 2022.

Associated Press melaporkan bahwa pada 27 Oktober 2026 promotor Shoemaker Live tetap akan menggelar kedua konser, dengan alasan mendukung sektor pariwisata dan kebudayaan. Promotor juga menyatakan Bocelli akan mendedikasikan lagu bagi kemanusiaan dan perdamaian serta mengumumkan program sumbangan sepatu bagi anak-anak di wilayah yang terdampak konflik.

Penolakan MUI ini awalnya membuat pemerintah ragu-ragu untuk menyelenggarakan konser ini. Pada 13 Oktober, Sekretaris Kementerian Pariwisata Bayu Aji menyatakan bahwa pemerintah berupaya mencari titik temu dengan MUI. Ia juga menyebut pihaknya akan mengomunikasikan masukan MUI kepada manajemen Bocelli dan berharap ada pernyataan resmi yang mendukung kemerdekaan Palestina.

Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri, Sudarnoto Abdul Hakim saat itu meminta pemerintah bersikap konsisten terhadap kegiatan yang dinilai berkaitan dengan dukungan terhadap Zionisme. Desakan ini muncul setelah pemerintah memutuskan tidak mengizinkan konser musisi asal Amerika Serikat, Israel Houghton. Menurut Sudarnoto, konser Bocelli perlu dibatalkan karena Indonesia mendukung perjuangan rakyat Palestina.

Untuk menampung aspirasi masyarakat, Shoemaker Live dalam rangkaian konser Andrea Bocelli nanti akan mengadakan penggalangan dana, yang bertujuan membantu program-program kemanusiaan di seluruh dunia. Program ini termasuk memberikan donasi 100.000 pasang sepatu kepada anak-anak di Palestina dan negara lain dengan yang terdampak perang.

Perizinan pemerintah terhadap konser Bocelli ini disesalkan MUI. “Bocelli memang bukan zionis, lirik lirik lagunya bagus, tapi aksi dan tindakannya dengan tampil bernyanyi di acara penggalangan dana Friends of the Israel Defense Forces (FIDF) tahun 2010 membuktikan dukungannya kepada mesin pembunuh zionis. Bocelli sudah dipastikan tahu siapa IDF tapi dia tidak menolak acara penggalangan Dana untuk IDF itu. Ini tentu sebuah kesalahan fatal,” tegas Sudarnoto.

Ia juga menyatakan,“Soal sumbangan 100 ribu pasang sepatu, itu tak relevan dikaitkan dengan keberatan MUI dan masyarakat atas konser Bocelli, apalagi kalau sumbangan itu berasal dari promotor. Dan 100 ribu pasang sepatu sama sekali tidak sebanding dengan kebrutalan IDF membunuh penduduk Gaza.“

Ia berharap kepada Bocelli atau tim manajemen Bocelli, untuk secara terbuka menyampaikan permintaan maaf karena ikut penggalangan dana kepada IDF (Israel Defence Force).

1 2Laman berikutnya
Back to top button