Minta Dedi Mulyadi Klarifikasi Pernyataan soal Nabi Adam, BKsPPI: Jangan Rekayasa Sejarah Kenabian!
Bogor (Suaraislam.id) – Badan Kerja Sama Pondok Pesantren Indonesia (BKsPPI) menyoroti pernyataan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), mengenai kisah Nabi Adam AS yang beredar di media sosial. BKsPPI menilai narasi tersebut perlu diluruskan karena berpotensi menimbulkan kesalahpahaman terhadap akidah Islam, khususnya mengenai kemuliaan para nabi dan hakikat surga.
Ketua Umum BKsPPI KH Didin Hafidhuddin melalui pernyataan sikap resmi yang turut ditandatanganinya, menegaskan pentingnya menjaga kemurnian ajaran Islam dari penafsiran yang tidak memiliki landasan wahyu.
Polemik tersebut mencuat setelah beredarnya potongan ceramah Dedi Mulyadi yang mengaitkan turunnya Nabi Adam AS dari surga dengan kesengajaan melakukan dosa agar dapat menjalani kehidupan di bumi melalui konsep engineering. Dalam potongan ceramah tersebut, terdapat pula narasi yang menggambarkan surga sebagai ruang imajinasi.
BKsPPI memandang persoalan ini bukan sekadar perbedaan cara pandang, melainkan menyangkut prinsip mendasar dalam akidah Islam yang harus dijelaskan berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, dan pemahaman para ulama.
Dalam pernyataan sikap yang ditandatangani KH Didin Hafidhuddin bersama Sekretaris Jenderal BKsPPI KH Akhmad Alim, ditegaskan bahwa kisah para nabi tidak boleh ditafsirkan berdasarkan spekulasi tanpa landasan dalil yang jelas.
“Menggambarkan Nabi Adam AS sengaja melakukan dosa demi memperoleh kesempatan turun ke bumi merupakan pernyataan yang tidak memiliki landasan dalil yang jelas,” jelas Kiai Didin.
BKsPPI merujuk pada QS. Al-Baqarah ayat 36–37 dan QS. Thaha ayat 121–122 yang menjelaskan bahwa Nabi Adam AS mengalami ketergelinciran akibat godaan setan, kemudian bertobat dan memperoleh ampunan serta petunjuk dari Allah SWT.
Menurut BKsPPI, tidak ada dasar wahyu yang menyebutkan bahwa pelanggaran tersebut dilakukan secara sengaja sebagai strategi untuk turun ke bumi.
“Tidak terdapat keterangan wahyu bahwa Nabi Adam AS sengaja melakukan pelanggaran dengan tujuan agar dapat turun ke bumi,” tegas Kiai Didin.
Lebih lanjut, BKsPPI menjelaskan bahwa Allah SWT telah menetapkan manusia sebagai khalifah di bumi sebelum peristiwa Nabi Adam AS memakan buah yang dilarang, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 30.
Dengan demikian, keberadaan manusia di bumi merupakan bagian dari ketetapan dan kehendak Allah SWT, bukan hasil rekayasa Nabi Adam AS melalui kesengajaan melakukan dosa.
Selain persoalan Nabi Adam AS, BKsPPI juga mengkritisi narasi yang menggambarkan surga sebagai ruang imajinasi. BKsPPI menegaskan bahwa keberadaan surga merupakan bagian dari keyakinan mendasar umat Islam yang telah dijelaskan secara tegas dalam Al-Qur’an dan Sunnah.
“Surga bukan sekadar imajinasi, metafora, atau konstruksi pikiran manusia,” tegas Kiai Didin.
Penegasan tersebut didasarkan pada QS. Ali Imran ayat 133 dan QS. As-Sajdah ayat 17 yang menerangkan keberadaan surga serta kenikmatan yang Allah SWT sediakan bagi hamba-hamba-Nya.
BKsPPI mengingatkan bahwa kreativitas berpikir, inovasi, maupun pendekatan filosofis tidak boleh dijadikan dasar untuk mengubah substansi ajaran agama.
Meskipun menghargai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, BKsPPI menekankan bahwa akal manusia harus tetap berjalan dalam bimbingan wahyu, terutama ketika membahas persoalan akidah dan perkara gaib.
BKsPPI secara khusus mengingatkan Dedi Mulyadi agar lebih berhati-hati dalam menyampaikan pandangan keagamaan kepada masyarakat.
Sebagai Gubernur Jawa Barat sekaligus tokoh publik dengan pengaruh dan jangkauan komunikasi yang luas, Dedi Mulyadi dinilai memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan pernyataannya tidak menimbulkan kekeliruan pemahaman agama.
Dalam pernyataan sikap tersebut, BKsPPI secara tegas menyampaikan tuntutannya. “Meminta Dedi Mulyadi memberikan klarifikasi secara terbuka mengenai pernyataannya tentang Nabi Adam AS, khususnya narasi bahwa Nabi Adam sengaja melakukan dosa agar dapat turun ke bumi.”





