Minta Dedi Mulyadi Klarifikasi Pernyataan soal Nabi Adam, BKsPPI: Jangan Rekayasa Sejarah Kenabian!
Selain meminta klarifikasi, BKsPPI mengimbau Dedi Mulyadi agar mengedepankan rujukan Al-Qur’an, Sunnah, dan penjelasan ulama yang kompeten ketika membicarakan persoalan akidah serta kisah para nabi.
BKsPPI juga mengharapkan Dedi Mulyadi bersedia meluruskan pernyataannya dan menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat apabila terdapat kekeliruan dalam penyampaiannya.
Menurut BKsPPI, kebebasan berpendapat tetap harus dihormati. Namun, kebebasan tersebut tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab keilmuan dan moral, terutama ketika menyangkut ajaran agama yang diyakini masyarakat.
BKsPPI menegaskan bahwa kritik terhadap pernyataan Dedi Mulyadi bukan dimaksudkan sebagai serangan pribadi ataupun upaya merendahkan kedudukannya sebagai pejabat publik.
Sebaliknya, langkah tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan pesantren dalam menjaga kemurnian akidah, meluruskan pemahaman yang keliru, serta memberikan edukasi kepada masyarakat.
BKsPPI juga mengajak para ulama, pendidik, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen bangsa untuk membangun komunikasi publik yang mencerdaskan dengan tetap menghormati ajaran agama.
Melalui pernyataan sikap yang ditandatanganinya, KH Didin Hafidhuddin bersama jajaran BKsPPI menyampaikan peringatan tegas mengenai batas antara kreativitas pemikiran dan kebenaran wahyu.
“Jangan sampai semangat membangun peradaban justru mengaburkan kebenaran wahyu. Kita boleh mengembangkan pemikiran engineering, tetapi jangan merekayasa sejarah kenabian.” jelas Kiai Didin.
BKsPPI berharap polemik ini menjadi momentum bagi seluruh tokoh publik untuk lebih berhati-hati dalam menyampaikan pesan keagamaan, sekaligus memperkuat penghormatan terhadap kemuliaan para nabi dan kemurnian akidah Islam.
Masyarakat pun diimbau untuk menyikapi persoalan tersebut secara tenang, tidak emosional, serta menghindari serangan pribadi.
BKsPPI menegaskan bahwa kemajuan peradaban tidak harus mempertentangkan akal dengan wahyu. Sebaliknya, kemajuan harus dibangun di atas perpaduan iman, ilmu pengetahuan, akhlak, kreativitas, dan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di muka bumi. []





