OPINI

Mengenang Eyang Habibie

Presiden ke-3 RI Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie tutup usia di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Rabu petang (11/9/2019). Pemerintah menetapkan hari berkabung nasional selama tiga hari sampai Sabtu (14/9). Selain masyarakat, kantor-kantor pemerintah baik di dalam maupun luar negeri diminta mengibarkan bendera setengah tiang.

Duka mendalam mengiringi kepergiannya. Warga berdiri di sepanjang jalan, saat mobil yang mengantar jenazah menuju tempat peristirahatannya yang terakhir. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan membebaskan aturan ganjil genap di sejumlah ruas jalan, hari itu untuk memudahkan warga yang ingin memberikan salam perpisahan. (Cnnindonesia, 12/9/2019)

Kepergian Habibie juga mendapat sorotan sejumlah portal berita media Asia, Benua Australia, Eropa, hingga Amerika. Melalui duta besarnya di Jakarta, Peter Schoof, Jerman mengenang sosok Habibie yang telah memberikan kontribusi sangat besar tak hanya bagi Indonesia, tapi juga bagi hubungan bilateral negara.

Amerika Serikat, Inggris, Australia, Malaysia, Timor Leste serta perwakilan Uni Eropa dan Kedutaan Besar Perancis di Jakarta juga mengucapkan belasungkawa melalui akun twitter mereka dan mengenang Habibie sebagai pribadi yang baik.

Duka cita mendalam juga dirasakan seluruh kalangan. Para pengusaha, merasa kehilangan. Sosok Habibie, dikenang sebagai negarawan yang memiliki keinginan tulus dalam memajukan dunia usaha Indonesia.

Begitu pula halnya dengan pendidikan. Kepada Arief Rachman Hakim, Habibie menyampaikan keinginannya agar kemajuan kualitas pendidikan anak bangsa diperhatikan. Pesan beliau, tidak hanya mengajar tapi juga mendidik agar bangsa ini tidak tercerai berai.

Bahkan kepada Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri, Habibie pernah menyatakan harapannya atas perkembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia. Beliau ingin pemerintah terus menelurkan kebijakan yang mampu meningkatkan kualitas SDM Indonesia.

Pengalihan sumber daya alam yang merupakan aset negeri ini kepada asing kemudian diolah dan dijual oleh negara asing tersebut ke negara asal, sangat memprihatinkan beliau, sebab melemahkan bangsa ini. Menyerahkan kekayaan alam kepada bangsa lain, beliau sebut sebagai neo kolonialisme atau VOC dengan baju baru.

Inilah bentuk kepeduliannya, yang membuat beliau dicintai semua orang. Seperti halnya pada masa dahlulu. Di tengah prestasi dan karirnya yang cemerlang di Jerman ia memutuskan kembali ke Indonesia pada 1973 setelah diminta Presiden Soeharto untuk ‘mengurusi negeri’. Ia mengabdi menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi sejak 1978 hingga 1998.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button