LAPSUS

Itamar Ben-Gvir: Wajah Kanan Keras Israel atau Wajah Israel?

Oleh: Simon Speakman Cordall

Dalam beberapa minggu terakhir, Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, telah menunjukkan kepada dunia versi “Israel modern” yang sebelumnya lebih disukai untuk tidak ditampilkan.

Tindakan Ben-Gvir memicu kemarahan di panggung internasional, mulai dari pernyataannya kepada media bahwa ia “tidak akan mengizinkan” kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang dianggap merugikan Israel, hingga aksinya yang terekam di televisi saat mengolok-olok para aktivis yang ditahan dari armada kemanusiaan Global Sumud Flotilla.

Selama ini cukup mudah untuk menggambarkan pemimpin partai Jewish Power itu sebagai sosok politik yang menyimpang dari arus utama dalam koalisi pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Cara pandang ini memungkinkan para pengkritik domestik terhadap kelompok kanan ekstrem tetap mendukung pemerintah, sementara perusahaan dan negara-negara lain tetap menjalin hubungan dagang meski kecaman terhadap pemerintah Israel terus meningkat.

Netanyahu memahami besarnya kerusakan terhadap citra Israel di mata dunia setelah Inggris, Prancis, Italia, Kanada, bahkan sekutu utama Israel di Amerika Serikat mengecam tindakan Ben-Gvir yang mengejek para aktivis yang sebagian besar berasal dari Eropa.

Ia menyebut aksi tersebut sebagai sesuatu yang “tidak sesuai dengan nilai dan norma Israel”.

Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Sa’ar, bahkan melangkah lebih jauh dengan merilis pernyataan yang menuduh rekan satu kabinetnya itu secara sadar merugikan negara Israel dan menegaskan bahwa Ben-Gvir “bukan wajah Israel”.

Pandangan itu juga digaungkan oleh banyak media Israel yang berupaya memisahkan Ben-Gvir dari negara dan pemerintah Israel.

Namun, semakin jelas bahwa kenyataannya justru sebaliknya: Ben-Gvir adalah wajah dari bagian masyarakat Israel yang semakin dominan.

“Dia memang bodoh, yang menunjukkan bahwa dia tidak bertindak sendirian,” kata anggota Knesset dari partai kiri Hadash, Aida Touma-Sliman, kepada Al Jazeera.

Menurut Touma-Sliman, semua yang dilakukan Ben-Gvir berlangsung dengan bantuan politisi dan birokrat yang memiliki keyakinan serupa dengannya.

Politikus kanan ekstrem yang pernah dihukum karena menghasut kekerasan itu pada akhirnya memperoleh kendali besar atas kepolisian dan lembaga pemasyarakatan sejak menjabat sebagai Menteri Keamanan Nasional pada 2022.

“Jika hanya satu polisi saja mengatakan tidak, bahwa polisi tidak boleh dipolitisasi, maka semuanya selesai,” kata Touma-Sliman.

“Jika kepala dinas penjara berkata tidak, bahwa tahanan tidak boleh dibiarkan kelaparan, disiksa, atau dilecehkan secara seksual, maka itu juga akan berhenti,” kata Touma-Sliman.

1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button