SUARA PEMBACA

Maulid Nabi Saw: Teladan Rasulullah Menyejahterakan Rakyat

Peringatan Maulid Nabi Saw seharusnya bukan hanya seremonial. Ini momentum untuk kembali meneladani Rasulullah dalam menyejahterakan rakyat.

Namun, di tengah peringatan itu, kita justru disuguhi berita tragis. Seorang ibu di Bandung bunuh diri setelah lebih dulu meracuni anak-anaknya karena tidak kuat menanggung beban hidup. Di Sukabumi, seorang bocah meninggal dengan tubuh dipenuhi cacing gelang, sementara kedua orang tuanya sakit dan hidup dalam kemiskinan tanpa akses kesehatan.

Kisah-kisah pilu ini hanyalah sepotong dari potret derita rakyat di negeri yang kaya raya. Fakta lain menunjukkan tren bunuh diri di Indonesia terus meningkat. Polri mencatat 887 kasus bunuh diri pada 2022, melonjak menjadi 1.288 kasus pada 2023, dan 1.023 kasus pada 2024. Hingga Mei 2025, sudah ada 600 kasus bunuh diri. Diduga angka sebenarnya jauh lebih besar karena banyak yang tidak tercatat. Salah satu penyebab utamanya adalah jerat kemiskinan yang membuat orang putus asa.

Bunuh Diri adalah Haram

Islam dengan tegas melarang bunuh diri. Allah SWT berfirman: “Janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepada kalian.” (QS. an-Nisa [4]: 29)

Rasulullah Saw pun bersabda: “Siapa saja yang bunuh diri dengan sesuatu, maka ia akan diazab dengan sesuatu itu pada Hari Kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bahkan Nabi Saw memperingatkan para orang tua agar tidak membunuh anaknya hanya karena takut miskin. Karena rezeki setiap manusia telah ditetapkan Allah. Artinya, Islam menutup rapat pintu putus asa dan mengajarkan umat untuk tetap berharap, bertawakal, bekerja keras, dan saling peduli.

Keteladanan Rasulullah Saw

Rasulullah memberi teladan luar biasa dalam menghadapi kesempitan hidup. Beliau pernah mengganjal perutnya dengan batu karena lapar. Beliau juga menganjurkan umatnya untuk bekerja keras, walau hanya sekadar memikul kayu bakar untuk dijual, daripada mengemis. Bahkan beliau mendorong umat Islam untuk saling memperhatikan tetangga, hingga meminta agar kuah masakan diperbanyak supaya bisa dibagikan.

Rasulullah bersabda: “Tidak beriman kepada diriku orang yang tidur dalam keadaan kenyang, sementara tetangganya kelaparan dan ia mengetahuinya.” (HR. ath-Thabrani)

Keteladanan ini menunjukkan bahwa Islam mengikat umat dengan rasa tanggung jawab sosial. Tidak boleh ada seorang Muslim yang berlepas tangan melihat penderitaan saudaranya.

Peran Negara Menurut Islam

Lebih dari itu, Rasulullah menegaskan peran negara dalam menjamin kesejahteraan rakyat. Beliau bersabda: “Pemimpin adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR. Bukhari-Muslim)

Negara dalam pandangan Islam wajib menjamin kebutuhan pokok rakyat: pangan, kesehatan, pendidikan, dan keamanan. Nabi bahkan mengingatkan ancaman keras bagi pemimpin yang menutup pintunya dari rakyat miskin. Dalam kepemimpinan beliau di Madinah, rakyat tidak dibiarkan kelaparan atau hidup tanpa jaminan.

Sayangnya, hari ini kita hidup dalam sistem sekularisme-kapitalisme. Agama dipisahkan dari urusan negara, sehingga kebijakan ekonomi tidak lagi berpihak pada rakyat. Kapitalisme menjadikan kekuasaan tunduk pada kepentingan oligarki. Rakyat hanya dipandang sebagai objek pajak, sementara pejabat dan elite justru hidup dalam kemewahan.

Akibatnya, kemiskinan, kesenjangan, dan keputusasaan merajalela. Wajar jika kasus bunuh diri meningkat, karena rakyat dibiarkan bertahan hidup dengan prinsip “siapa kuat dia bertahan.”

1 2Laman berikutnya
Back to top button