#Bebaskan PalestinaRESONANSI

Aksi Flotilla Gaza Sukses Telanjangi Kegagalan Mesin Hasbara Zionis

Mikrokosmos Penderitaan Palestina

Bagi bangsa Palestina, penghinaan yang harus dialami oleh para aktivis Eropa dan internasional tersebut hanyalah sekelumit gambaran kecil dari realitas sistemik yang jauh lebih gelap yang mereka hadapi sehari-hari.

Mustafa Barghouti, Sekretaris Jenderal Inisiatif Nasional Palestina, mengatakan bahwa para aktivis yang diikat dan ditutup matanya merupakan sebuah mikrokosmos dari apa yang diderita oleh para tahanan Palestina setiap hari.

“Adegan ini mengekspresikan fasisme dari seluruh jajaran pemerintahan Israel, bukan hanya Ben-Gvir seorang,” tegas Barghouti.

“Jika pemerintah Israel benar-benar menentang tindakan keji ini, mereka pasti sudah memecatnya seketika itu juga,” lanjut Barghouti.

“Sebaliknya, kebebalan mereka kini telah mencapai tahap melakukan aksi pembajakan kapal di perairan internasional,” cetus Barghouti mengecam militer zionis.

Lembaga-lembaga hak asasi manusia memperkirakan bahwa hampir 100 warga Palestina telah gugur dalam tahanan Israel sejak Oktober 2023 di tengah laporan luas mengenai kelaparan, pemukulan parah, dan pembiaran medis.

Luisa Morgantini, mantan Wakil Presiden Parlemen Eropa, menyatakan bahwa respons diplomatik standar yang hanya berupa pemanggilan duta besar sama sekali tidak memadai.

“Sangat memalukan bagaimana pemerintah kita bersikap; mereka telah menjadi kaki tangan yang terlibat dalam kejahatan ini,” ujar Morgantini.

Morgantini juga mendesak negara-negara Eropa untuk segera membekukan perjanjian asosiasi mereka dengan Israel, menghentikan total penjualan senjata, serta secara aktif mendukung surat perintah penangkapan yang dikeluarkan ICC terhadap para pemimpin Israel.

Palu dan Armada Flotilla

Meskipun menghadapi pencegatan militer dan sanksi dari AS, para aktivis serta analis sepakat bahwa kampanye flotilla yang dimulai sejak 2009 sebagai respons atas blokade darat, laut, dan udara oleh Israel, telah berhasil menelanjangi batas-batas kekuatan militer Israel.

Nimer mengutip teori psikolog Amerika, Abraham Maslow, yang berbunyi bahwa jika satu-satunya alat yang Anda miliki adalah palu, maka Anda cenderung melihat setiap masalah sebagai paku.

“Ini adalah satu-satunya cara militer Israel tahu bagaimana harus bertindak—yaitu melalui kekuatan kasar dan aksi pembajakan,” papar Nimer.

“Tugas Hasbara selama ini adalah merasionalkan kebrutalan tersebut agar bisa diterima oleh konsumsi global,” lanjut Nimer.

“Namun seiring dengan armada flotilla yang terus menantang blokade, mereka berhasil mengumpulkan kemenangan-kemenangan kecil dan mempercepat isolasi global terhadap Israel di tingkat akar rumput, sekaligus membuktikan bahwa mesin propaganda bernilai jutaan dolar tidak mampu lagi menyembunyikan realitas keji di lapangan,” pungkas Nimer menyudahi penjelasannya.[]

Sumber: Al Jazeera

Laman sebelumnya 1 2 3
Back to top button