Anak-Anak Gaza Kembali ke Sekolah, Belajar di Tenda-Tenda Setelah Bertahun-tahun Terganggu
Sekitar 700.000 anak berusia 4 hingga 17 tahun telah kehilangan kesempatan sekolah formal secara beruntun. Bahkan, sekitar 420.000 di antaranya tidak mendapatkan akses pembelajaran tatap muka sama sekali.
Di dalam salah satu tenda, Nesma Nahid Abu Asim mengajar matematika untuk siswa kelas enam. Ia menulis di papan tulis kecil sementara anak-anak duduk di atas kasur tipis dengan buku catatan di pangkuan mereka.
Abu Asim telah menjadi guru matematika sejak 2010 di bawah Kementerian Pendidikan sebelum perang, dan kini mengajar melalui program UNICEF yang mendukung pendidikan di Gaza.
“Selama periode ini, pendidikan menjadi sangat sulit. Ada tantangan besar bagi orang tua dan guru ketika kami mencoba membawa siswa ke tempat yang aman,” katanya.
“Pendidikan adalah hak setiap siswa, tetapi siswa datang tanpa alat tulis dasar atau buku pelajaran, sementara meja dan kursi sebagian besar tidak tersedia. Siswa datang ke sekolah hari ini dalam situasi yang berbahaya, situasi perang,” lanjut Abu Asim.
Akibat blokade Israel yang masih berlangsung, sekolah-sekolah melaporkan kekurangan alat tulis, buku pelajaran, meja, dan kursi yang parah. Namun bagi Abu Asim, kekhawatiran terbesarnya adalah ancaman terhentinya kembali proses pendidikan.
“Kondisi ini sulit bagi siswa, tetapi bukan tidak mungkin untuk dijalani. Kesulitan terbesar adalah jika kita menghentikan pendidikan. Kita telah mengambil langkah baik dengan membuka tahun ajaran baru dan kembali ke kehidupan normal. Siswa memiliki hak untuk belajar dan duduk di bangku sekolah,” tegasnya.
Ia berharap ruang kelas sementara ini nantinya digantikan oleh fasilitas yang lebih aman dan permanen bagi anak-anak Kota Gaza.
“Saya berharap sekolah-sekolah dibebaskan dari tempat penampungan pengungsi dan dikembalikan kepada para siswa. Anak-anak ini adalah masa depan kita. Kita tidak bisa menempatkan 40 siswa dalam satu tenda, sementara dalam satu ruang kelas kita bisa menampung 40 siswa dengan layak,” tuturnya.
Saat gurunya melanjutkan pelajaran matematika, Osama Alayleh (11) mengungkapkan perasaannya.
“Saya senang bisa kembali ke sekolah,” ujar Osama yang meraih peringkat ketiga di kelasnya dan berharap bisa naik ke peringkat pertama tahun ini.
Osama mengaku lebih memilih belajar di bangunan sekolah normal yang dilengkapi meja dan kursi ketimbang tenda yang menyerupai tempat tinggalnya. Meski demikian, ia bersiap menyambut tahun ajaran baru dengan buku catatan dan alat tulis dari lembaga bantuan.






