#Bebaskan PalestinaINTERNASIONAL

Anak-Anak Gaza Kembali ke Sekolah, Belajar di Tenda-Tenda Setelah Bertahun-tahun Terganggu

“Tapi apa yang bisa kita lakukan? Tidak apa-apa, yang penting kita belajar. Saya bersemangat untuk tahun ajaran ini dan berharap dapat terus berlanjut tanpa masalah,” katanya.

Sekolah tanpa Meja dan Kursi

Banyak anak masih harus belajar di dalam tenda dan ruang belajar sementara dengan kondisi sempit serta fasilitas terbatas.

Kondisi ini terlihat jelas di Sekolah Ahbab Shujayea, sebuah sekolah darurat yang menempati tenda-tenda lusuh di dekat area pelabuhan Kota Gaza.

Otoritas Palestina menyampaikan bahwa pengiriman tas sekolah dan alat tulis dari UNICEF sempat tertahan masuk ke wilayah tersebut.

Di sekolah ini, tidak ada meja maupun kursi. Siswa kelas satu dan dua duduk berdesakan di atas tanah menggunakan potongan kardus sebagai alas menulis, sementara guru mengajar menggunakan papan tulis berukuran sangat kecil.

Kepala Sekolah Ahbab Shujayea, Inaam Al-Batreekhi, mengatakan bahwa kondisi ini adalah fasilitas terbaik yang dapat mereka sediakan dalam situasi darurat saat ini.

“Lebih dari 300 siswa terdaftar di Sekolah Ahbab Shujayea, namun sayangnya mereka adalah siswa tanpa buku catatan atau alat tulis. Hari ini kita bisa belajar dan duduk di tanah, tetapi besok ketika hujan turun, kita tidak akan bisa lagi menggunakannya,” kata Al-Batreekhi kepada Al Jazeera.

Sekolah ini melayani anak-anak dari sembilan kamp pengungsian di sekitar pelabuhan untuk jenjang kelas satu hingga enam. Jam belajar dipersingkat dari pukul 08.00 hingga 11.00 pagi demi pertimbangan keamanan.

“Kadang-kadang siswa datang terlambat dan memberi tahu saya, ‘Saya tadi mengisikan air untuk ibu saya.’ Mereka adalah anak-anak pengungsi. Beberapa saat lalu mereka mengangkut air dan makanan, sekarang mereka di sini berusaha untuk belajar,” tuturnya.

Al-Batreekhi menjalankan sekolah tersebut secara sukarela dan berharap kegiatan belajar dapat kembali ke bangunan resmi.

“Saya berharap kita bisa kembali ke sekolah resmi, ke bangunan permanen. Semua bangunan telah hancur dan sekolah-sekolah berubah menjadi tenda. Pada perang-perang sebelumnya, kita meliburkan sekolah selama satu atau dua bulan, lalu kembali dan menemukan sekolah kita seperti semula. Sekarang, kembali ke sekolah seperti itu hampir mustahil dalam sekejap mata,” jelasnya.

Saat ini, prioritas Al-Batreekhi adalah membuat sekolah sementara tersebut senyaman mungkin bagi anak-anak.

“Saya berharap situasi di sekolah dan bagi para siswa dapat membaik, serta kita mendapatkan dukungan yang dibutuhkan. Setidaknya memiliki kursi dan meja akan membuat perbedaan besar. Mereka adalah anak-anak kelas satu dan dua yang baru memulai pendidikan, dan mereka berhak mendapatkan kondisi dasar untuk belajar,” pungkasnya.[]

Sumber: Aljazeera.com

Laman sebelumnya 1 2 3
Back to top button