Bebas, Jurnalis Palestina Abed Abou Shhadeh Bongkar Intimidasi Israel
Jakarta (Suaraislam.id) — Otoritas Israel telah membebaskan jurnalis Palestina Abed Abou Shhadeh setelah menahannya selama lima hari tanpa dakwaan.
Berbicara usai dibebaskan, Abou Shhadeh menyampaikan pada Ahad (8/11) bahwa penahanannya merupakan bagian dari “langkah politik” yang ditujukan tidak hanya untuk dirinya, “tetapi untuk menakut-nakuti masyarakat Arab secara keseluruhan.”
“Menurut pandangan saya, respons paling tepat adalah menegaskan kembali di antara kita bahwa kita berada di pihak yang benar, bahwa jalan kita adalah jalan kebenaran,” tegasnya sembari menambahkan bahwa ia akan melanjutkan pekerjaannya sebagai jurnalis.
Abou Shhadeh ditahan di fasilitas intelijen Shin Bet di Petah Tikva, pinggiran Tel Aviv, setelah ditangkap pada Selasa atas dugaan “berhubungan dengan agen asing”.
Ia dicurigai menerima uang dari sumber asing untuk mendukung pemilih Arab di Israel, menurut kelompok hak asasi hukum Adalah yang menjadi bagian dari tim pembelanya.
Tuduhan tersebut muncul setelah Abou Shhadeh, seorang warga Palestina berkewarganegaraan Israel, berbicara di siniar al-Midan untuk situs web Arab48 dan tampil sebagai analis di Al Jazeera.
Ia membahas topik-topik yang serupa dengan yang didiskusikan di media-media Israel, menurut Hadeel Abu Salih, penasihat hukumnya sekaligus pengacara hak asasi manusia dari organisasi Adalah.
“Sangat jelas sejak hari pertama, yaitu sejak Kamis, bahwa polisi tidak memiliki bukti apa pun dalam konteks ini,” kata Abu Salih. Seluruh kecurigaan hanya didasarkan pada percakapan publik yang dilakukannya dengan intelektual Palestina Azmi Bishara saat ia berada di Qatar.
“Hal ini sekarang dikriminalisasi hanya karena pembicaranya adalah warga Palestina,” ujar Abu Salih. “Atau ketika warga Palestina meminta untuk menganalisis realitas politik mereka. Sistem Israel mengubah diskusi dan analisis tersebut menjadi kecurigaan kriminal.”
“Mereka mencoba mengatakan bahwa dia bukan seorang jurnalis, melainkan seorang penasihat politik.”
Pengacara tersebut mengatakan Abou Shhadeh ditangkap di tengah malam pada Selasa setelah 15 petugas keamanan Israel menggerebek rumahnya di Jaffa. Mereka menyita barang-barang pribadi seperti perangkat elektronik dan buku di hadapan kedua anaknya.
‘Kampanye Menentang Suara… Warga Palestina’
Penahanannya selama lima hari merupakan “bagian dari kampanye menentang hak pilih warga Arab dan Palestina di Israel”, ungkap pendiri Adalah, Hassan Jabareen, kepada Al Jazeera.
Jabareen mengatakan Israel berusaha “mendelegitimasi hak pilih mereka” melalui klaim-klaim terhadap Abou Shhadeh.
“Dia bepergian ke Doha sebagai jurnalis… dia kembali sebagai jurnalis. Namun, dia ditangkap sebagai tokoh politik Arab,” kata Jabareen. “Mereka mencoba memanfaatkannya untuk mengatakan bahwa warga Arab menggunakan cara-cara ilegal dalam partisipasi politik mereka pada pemilu Israel.”[]
Sumber: Aljazeera.com






