QUR'AN-HADITS

Ancaman Nyata bagi Pengolok Agama: Kajian Tafsir Surah Al-Kahfi Ayat 103-106

Oleh: Hanifatul Mujahidah*

Di era media sosial saat ini, candaan tentang agama sering kali dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Demi mendapatkan perhatian, hiburan, atau popularitas, sebagian orang tanpa sadar menjadikan simbol-simbol agama, ayat Al-Qur’an, bahkan ajaran Islam sebagai bahan olok-olokan.

Padahal, perbuatan tersebut bukanlah perkara sepele karena Al-Qur’an memberikan peringatan keras terhadap sikap merendahkan agama dan menganggap remeh ayat-ayat Allah Swt. Dalam surah Al-Kahfi ayat 103–106, Allah Swt. menjelaskan tentang golongan manusia paling merugi, yaitu mereka yang merasa telah berbuat baik tetapi amalnya menjadi sia-sia karena kekufuran dan sikap memperolok agama.

Melalui kajian tafsir terhadap ayat-ayat ini, kita dapat memahami pesan penting yang terkandung di dalamnya. Pemahaman ini juga membantu kita untuk melihat relevansinya dengan berbagai fenomena sosial masyarakat masa kini.

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْاَخْسَرِيْنَ اَعْمَالًا۝١٠٣ اَلَّذِيْنَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُوْنَ اَنَّهُمْ يُحْسِنُوْنَ صُنْعًا۝١٠٤ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِاٰيٰتِ رَبِّهِمْ وَلِقَاۤىِٕهٖ فَحَبِطَتْ اَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيْمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَزْنًا۝١٠٥ ذٰلِكَ جَزَاۤؤُهُمْ جَهَنَّمُ بِمَا كَفَرُوْا وَاتَّخَذُوْٓا اٰيٰتِيْ وَرُسُلِيْ هُزُوًا۝١٠٦

“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Apakah perlu kami beri tahukan kepadamu orang-orang yang paling rugi perbuatannya, yaitu orang-orang yang sia-sia usahanya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya?’ Mereka itu adalah orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhannya dan kufur pula terhadap pertemuan dengan-Nya, maka amal mereka sia-sia dan Kami tidak memberikan penimbangan terhadap amal mereka pada hari Kiamat; itulah balasan mereka berupa neraka Jahanam karena mereka telah kufur serta menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olokan.” (QS. Al Kahfi: 103-106)

Munasabah Ayat

Setelah menjelaskan rangkaian peristiwa hari Kiamat hingga penerimaan balasan, Allah Swt. menerangkan bahwa saat itu neraka diperlihatkan secara nyata kepada orang-orang kafir. Penampakan neraka tersebut justru menjadi kabar baik bagi orang-orang beriman, karena mereka bersyukur tidak termasuk ke dalam golongan yang akan mengalaminya.

Orang-orang kafir sebelumnya menyangka bahwa sesembahan selain Allah Swt. dapat memberikan perlindungan dan menyelamatkan mereka dari siksa azab. Namun, anggapan itu sangat keliru sebab seluruh amal perbuatan mereka telah gugur, tidak bernilai, dan tidak memberi manfaat apa pun akibat kekafirannya.

Dengan demikian, neraka Jahanam akan diperlihatkan terlebih dahulu kepada orang-orang kafir sebelum mereka memasukinya guna menambah rasa takut, gelisah, dan penyesalan. Selain itu, kebaikan mereka tidak akan diperhitungkan karena semuanya telah sia-sia akibat kekafiran yang telah dilakukan di dunia.

Kajian Tafsir

Imam Al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya menjelaskan, ayat ini menyoroti adanya manusia yang merasa telah berbuat baik, padahal amalnya tidak bernilai di sisi Allah Swt. Kerusakan amal ini bisa terjadi akibat rusaknya akidah atau adanya sifat riya’, tetapi dalam konteks ayat ini pembahasannya lebih mengarah pada kekufuran.

Ayat ini juga menjadi peringatan tegas bagi orang-orang yang menyembah selain Allah Swt. bahwa seluruh amalnya pasti akan berujung sia-sia. Ibnu Abbas menafsirkan mereka sebagai kaum kafir Makkah, sementara Ali bin Abi Thalib mengaitkannya dengan kaum Khawarij dan para pendeta yang mengasingkan diri.

Selanjutnya, firman Allah Swt. yang menegaskan ketiadaan penilaian pada hari Kiamat menunjukkan bahwa amal orang kafir tidak memiliki bobot sama sekali. Sebuah hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah menegaskan bahwa ukuran kemuliaan bukanlah terletak pada kehebatan fisik, melainkan pada amal kebaikan.

Dari penjelasan tersebut, kita dapat memahami bahwa hidup berlebihan dalam kenikmatan duniawi justru dapat menjerumuskan pada kelalaian dan menjauhkan dari nilai keimanan. Sayyid Quthb menambahkan bahwa usaha golongan paling merugi ini menjadi sia-sia karena tidak berlandaskan petunjuk dan arah yang benar.

Mereka terus merasa telah berbuat baik karena terbelenggu dalam kelalaian dan tidak menyadari kesesatan yang mereka lakukan sendiri. Akibat pengingkaran terhadap ayat-ayat Allah Swt. dan pertemuan dengan-Nya, seluruh amal mereka gugur bagaikan istilah habithat yang menggambarkan amal hancur tanpa nilai.

1 2Laman berikutnya
Back to top button