Apakah Kartu Truf Netanyahu Mulai Kehilangan Taji di Israel?
Saat hubungan dengan AS merenggang, klaim Netanyahu atas pengaruhnya yang tak tertandingi di Washington makin disorot.
Netanyahu menerima kritik luas dari tokoh-tokoh sayap kanan Amerika, seperti pemandu siar jemala (podcast) Tucker Carlson dan mantan Anggota DPR AS dari Partai Republik, Marjorie Taylor Greene. Wakil Presiden JD Vance juga melontarkan kritik terhadap “sejumlah” warga Israel, menggunakan wawancara dengan pemandu siar jemala AS Joe Rogan untuk mengisyaratkan bahwa tokoh-tokoh di dalam pemerintah Israel berusaha menggagalkan kesepakatan yang sedang ia peragakan dengan Iran untuk mengakhiri perang.
Para analis mengindikasikan bahwa pertemuan Trump-Netanyahu akan menggabungkan pujian di depan umum dengan sikap sinis secara pribadi dari pihak Presiden AS. Ketika ditanya tentang penolakan terbuka Netanyahu terhadap penjualan F-35 ke Turki di atas pesawat kepresidenan Air Force One pada Senin, Trump mengatakan kepada wartawan, “Tidak ada yang bisa mengatur apa yang harus kami jual.”
Jembatan yang Rusak
“Netanyahu tiba di Washington pada saat bahkan banyak orang di sekitar [Trump] merasa curiga kepadanya. Dia telah menjadi sosok yang toksik di AS,” kata Ahron Bregman, seorang analis keamanan Israel dan pengajar senior di Departemen Studi Perang di King’s College London.
“Dia dianggap di AS—secara benar atau salah—sebagai sosok yang menyeret Trump ke dalam perang pilihan yang telah berubah menjadi bencana strategis. Tidak ada seorang pun, bahkan Trump, yang akan membiarkannya berpura-pura menjadi orang terpintar di dalam ruangan. Hari-hari itu telah berlalu,” ungkap Bregman.
Meskipun hanya sedikit yang memperkirakan adanya tanda-tanda ketidakharmonisan secara terbuka dari kunjungan tersebut di depan umum, kemampuan Netanyahu untuk menampilkan dirinya sebagai satu-satunya sosok yang paling tepat untuk mengelola hubungan negara itu dengan AS—faktor kunci dalam pemilu mendatang—mungkin akan terbatas.
“Netanyahu memiliki rekam jejak yang luar biasa dengan AS, tetapi dia telah merusak banyak jembatan hubungan,” kata Mitchell Barak, seorang pengumpul pendapat umum asal Israel dan mantan asisten Netanyahu pada tahun 1990-an, kepada Al Jazeera.
Ia menambahkan bahwa kritik terhadap Netanyahu tidak hanya terbatas pada tokoh-tokoh di dalam sayap nasionalis Partai Republik, tetapi juga mencakup sekutu tradisional Israel di dalam kelompok tengah-kanan partai tersebut.
“Kita telah melihat ketegangan melalui komentar Trump tentang berbagai penjualan F-35, termasuk yang terbaru ke Turki, serta kritik AS terhadap Netanyahu pada awal perang Iran, jadi saya tidak terlalu yakin apakah Trump akan terus membela Netanyahu lebih lama lagi,” kata Barak.
“Bisa saja Trump menyatakan bahwa Netanyahu adalah pemimpin perang yang hebat, tetapi ini saatnya bagi Israel untuk bangkit dan bergerak maju, sebelum akhirnya bertemu dengan [politisi Israel lainnya] dan mendukung seorang perdana menteri baru bagi Israel,” pungkas Barak.[]
Oleh: Simon Speakman Cordall
Sumber: Al Jazeera






