#Bebaskan PalestinaRESONANSI

Bagaimana David Ben-Gurion Salah Memahami Palestina pada 1948?

Persoalan Palestina tidak pernah hilang meskipun Israel telah melakukan upaya terbaik dan kekerasan terburuknya.

Kamp-kamp pengungsi tersebut kemudian berubah menjadi pusat perjuangan, baik secara damai maupun melalui perlawanan bersenjata.

Dari kamp-kamp itu lahir para pemikir, dokter, pendidik, dan pemimpin Palestina terkemuka yang menyebarkan satu pesan, yaitu penolakan terhadap pendudukan Israel dan penegasan hak-hak Palestina.

Para pengungsi Palestina menjadi penggerak utama Intifada pertama pada 1987 dan Intifada kedua pada 2000.

Mereka juga selalu berada di pusat berbagai mobilisasi massa berikutnya untuk melawan pendudukan keji Israel.

Proyek kolonial tersebut tidak melihat pilihan lain selain meningkatkan tingkat brutalitasnya.

Rentetan pembantaian berulang, pemenjaraan massal, dan upaya tanpa henti untuk mencabut komunitas Palestina dari akarnya terbukti tidak berhasil menundukkan mereka.

Pendekatan kekerasan ini gagal total, dan Jalur Gaza—tempat 80 persen penduduknya adalah pengungsi—menjadi bukti paling jelas atas kegagalan tersebut.

Setelah meluncurkan serangan genosida terhadap Gaza pada Oktober 2023, pemerintah Israel berulang kali menyebut perang itu sebagai perang yang “eksistensial”.

Jika Israel sendiri kini mengakui bahwa generasi keempat Palestina yang merupakan keturunan para penyintas Nakba adalah ancaman bagi keberadaannya, maka hal itu merupakan pengakuan atas runtuhnya prediksi Ben-Gurion dan kegagalan strategis proyek Israel untuk melenyapkan rakyat Palestina.

Namun, Israel tidak hanya sekadar gagal, melainkan juga telah terjebak.

Israel terperangkap dalam paradoks kesia-siaan kekuatan brutalnya sendiri.

Semakin banyak kekerasan, pembunuhan massal, dan pengusiran yang dilakukan, serta semakin sering Nakba diulang, maka semakin kuat pula tekad rakyat Palestina untuk melawan.

Penindasan yang bertubi-tubi tidak mencabut Palestina dari akarnya, melainkan justru membuatnya semakin berakar kuat.

Genosida di Gaza mungkin merupakan ilustrasi terbaik dari paradoks mematikan ini.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button