Bagaimana Menggiatkan Dunia Baca Tulis di Tanah Air?
Konten cepat mengubah ritme berpikir. Mendorong otak untuk mencari stimulasi instan, bukan kedalaman. Anak-anak SD kini hafal ratusan suara viral di TikTok, tetapi tidak hafal satu paragraf dari buku cerita yang mereka bawa ke sekolah.
“Gawai itu netral. Yang tidak netral adalah apa yang kita konsumsi,” kata Najelaa Shihab, pendiri Gerakan Semua Murid Semua Guru. “Masalahnya, algoritma media sosial tidak pernah mendorong kita untuk membaca; ia mendorong kita untuk menonton.”
Di titik ini, buku dan media sosial bukan sekadar dua aktivitas berbeda. Mereka adalah dua budaya berbeda. Yang satu menuntut kesabaran, konsentrasi, dan kontemplasi. Yang lain menawarkan hiburan cepat, reaksi cepat, dan lupa cepat.
Belajar dari Negara Lain: Ketika Membaca Menjadi Gaya Hidup
Kita perlu berhenti sejenak melihat bagaimana negara-negara dengan tingkat literasi tertinggi membangun budaya itu.
- Finlandia: Membaca Dimulai dari Buaian
Finlandia tidak hanya memiliki sistem pendidikan terbaik, tetapi juga budaya membaca yang dipupuk dari rumah. Setiap bayi yang lahir mendapat “kotak bayi” berisi selimut, pakaian, dan sebuah buku cerita. “Ini simbol bahwa literasi dimulai di rumah, bukan di sekolah,” kata seorang pejabat pendidikan Finlandia di Helsinki.
Perpustakaan di Finlandia bukan hanya tempat meminjam buku, tetapi pusat kegiatan komunitas: kursus, diskusi, konser kecil, bahkan ruang bermain anak. Membaca bukan kewajiban; ia bagian dari kehidupan.
- Swedia & Belanda: Perpustakaan sebagai Ekosistem
Negara-negara Nordik lain mempunyai kesamaan: banyak perpustakaan umum, kebiasaan membaca di rumah, dan integrasi literasi dalam kurikulum nasional. Di Swedia, anak-anak diperkenalkan pada buku sejak usia prasekolah melalui kegiatan “reading hour”—kegiatan membaca bersama guru, dua kali seminggu, wajib.
Di Belanda, orang tua diundang ke sekolah untuk ikut sesi membaca, agar membaca menjadi aktivitas keluarga, bukan hanya sekolah.
- Jepang: Disiplin Membaca Setiap Hari
Jepang memperkenalkan “silent reading” di kelas. 10–15 menit pertama setiap hari sekolah digunakan untuk membaca apa saja, tanpa tugas, tanpa tes. Hanya membaca. Ketenangan ini membuat anak terbiasa menikmati aktivitas hening dan fokus.
Mengapa Indonesia Tertinggal?
Indonesia punya kampanye literasi, punya perpustakaan nasional, punya gerakan komunitas, punya buku-buku murah. Bahkan, memiliki ratusan ribu guru. Lalu apa yang kurang? Beberapa hal ini perlu dikritisi :
- Keluarga tidak membaca
Riset internal Perpusnas menunjukkan bahwa mayoritas orang tua di Indonesia tidak pernah membacakan buku untuk anaknya. Anak-anak pun tidak melihat teladan membaca di rumah. - Sekolah terlalu fokus kurikulum, bukan kebiasaan
Banyak sekolah memandang membaca sebagai tugas, bukan kebiasaan hidup. Membaca sering menjadi proyek, bukan budaya. - Perpustakaan ada, tapi sering kosong atau tidak terawat
Perpustakaan sekolah kadang hanya bilik kecil berisi buku yang sudah usang. Perpustakaan daerah banyak yang tidak ramah anak, tidak nyaman, bahkan tidak terawat. - Buku berkualitas sulit diakses
Daerah terpencil masih kekurangan akses buku yang layak—baik karena biaya kirim mahal, distribusi minim, atau tidak ada toko buku. - Gawai mengambil alih tanpa pendampingan
Orang tua memberi HP kepada anak, tetapi tidak membimbing apa yang harus dibaca di sana. Ekosistem yang terputus inilah yang membuat indeks literasi naik, tetapi budaya literasi berjalan di tempat.
Untuk menggerakkan budaya baca-tulis, dibutuhkan pendekatan multi-lapisan, bukan sekadar kampanye.
- Menjadikan Buku “Mudah Didapat”
Negara-negara yang tinggi tingkat literasinya, memastikan bahwa buku bukan barang mewah. Indonesia perlu kebijakan:
- distribusi buku murah ke daerah-daerah terpencil,
- perpustakaan desa yang dibiayai APBD,
- perpustakaan digital nasional dengan kuota internet gratis,
- kemitraan dengan penerbit untuk e-book murah.
Semua ini bukan soal anggaran besar; lebih pada prioritas.






