Bocah di Gaza: Fisik dan Jiwa Anak-Anak, Tanggung Jawab seperti Orang Dewasa
Setiap pagi, dia mengikatkan tas putih di punggungnya dan mencari barang-barang plastik untuk dijual. “Kadang uangnya bahkan tidak cukup untuk membeli roti,” ujarnya.
Yasmin teringat bahwa sebelum perang, dia “bangga mengenakan pakaian bersih dan memakai parfum,” tetapi perang telah mengubah segala aspek kehidupan sehari-harinya.
“Anak-anak dalam perang ini, baik laki-laki maupun perempuan, sudah dibebani tanggung jawab yang jauh melampaui usia mereka,” imbuhnya. “Kami tidak menginginkan kehidupan seperti ini, tetapi kami tidak punya pilihan. Kami menderita setiap hari hanya untuk bertahan hidup, dan tidak ada yang membantu kami mengatasi konsekuensi perang ini.”
Di lingkungan Rimal, Gaza City, Abbas al-Ghazali (13) telah berjualan air sejak subuh. Membawa kotak kecil berisi botol-botol, dia berkeliling menyusuri jalan-jalan yang rusak sambil berseru, “Jual air! Jual air!” Seiring datangnya musim dingin, penjualannya pun menurun drastis.
“Saya menjual sebotol seharga 1 shekel (sekitar Rp5.000), tetapi kini orang-orang jarang membeli,” ujarnya. Al-Ghazali terpaksa bekerja setelah ayahnya, yang menderita kanker, tidak bisa lagi berobat akibat blokade Israel dan kekurangan obat-obatan penting.
Meskipun menghabiskan sebagian besar hari untuk bekerja, al-Ghazali tetap membawa tas sekolahnya yang berisi beberapa buku. “Dulu saya murid yang berprestasi,” ujarnya. “Ketika saya lelah, saya membuka tas dan membaca sedikit.”
Otoritas setempat mengatakan perang telah menimbulkan konsekuensi serius bagi anak-anak. Menurut kantor media pemerintah yang dikelola Hamas, ribuan anak tidak memiliki tempat tinggal yang aman atau lingkungan yang mendukung perkembangan sehat mereka.
Dengan terganggunya kegiatan pendidikan selama lebih dari dua tahun dan ribuan sekolah rusak atau hancur, pekerja anak melonjak di Gaza. Ruang publik, seperti pasar dan jalan-jalan terbuka, telah menjadi tempat kerja yang lazim bagi anak-anak yang terpaksa meninggalkan sekolah.
Ghadeer Al-Muqayyad, seorang psikolog yang mengkhususkan diri dalam perkembangan anak di Gaza City, mengatakan kepada Xinhua bahwa konflik telah memaksa anak-anak ke dalam situasi yang melampaui kapasitas emosional dan fisik mereka.
Dia menjelaskan bahwa meningkatnya pekerja anak membuat anak-anak di bawah umur terpapar pada kondisi berbahaya dan mengancam kesejahteraan jangka panjang mereka.
“Anak-anak ini mengalami trauma, kehilangan, pengungsian, dan kekerasan, yang dapat mengakibatkan gejala stres pascatrauma.”
Menurut Al-Muqayyad, stres yang berkepanjangan meningkatkan risiko kecemasan, tantangan perilaku, dan sikap menarik diri secara emosional pada anak-anak.
“Mengembalikan kembali anak-anak ke lingkungan belajar yang aman sangat penting untuk mengurangi dampak psikologis konflik,” ujarnya.[]
Pewarta: Xinhua






