OPINI

Corona, Perang dan Damai Presiden Jokowi

Rasa frustrasi

Ajakan Jokowi berdamai itu sangat bertentangan dengan berbagai optimisme yang selama ini ditebar pemerintah.

Akhir April lalu Kepala Gugus Tugas Covid-19 Doni Monardo menyampaikan kabar baik.

Khusus wilayah Jakarta yang menjadi episentrum dan awal penyebaran Corona, kasus positif sudah menurun sangat pesat. Bahkan sudah flat.

Doni menyebut pelaksanaan PSBB menjadi kunci keberhasilan menekan penyebaran Corona di Jakarta.

Dengan data itu, kata Doni, Presiden Jokowi berharap rakyat lebih patuh. Sehingga pada awal Juli kehidupan sudah bisa normal lagi.

Optimisme juga disampaikan sejumlah pejabat pemerintah. Menko Maritim Luhut Panjaitan berharap pada hari raya tempat hiburan seperti Ancol sudah dapat dibuka.

Sejumlah langkah diambil pemerintah. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyarankan adanya pelonggaran aturan mudik lebaran.

Menhub Budi Karya Sumadi kemudian mengumumkan pelonggaran berbagai moda transportasi publik. Pengumuman itu diartikan warga bisa menggunakan transportasi publik untuk mudik.

Tapi pengumuman itu segera diluruskan oleh Doni Monardo. Staf Anggota KSP Donny Gahrial Adian juga ikut-ikutan meluruskan. Mudik tetap dilarang.

Rupanya situasi sesungguhnya tidak seindah yang digambarkan. Signal itu dapat ditangkap dari permintaan Presiden kepada para pembantunya. Mulai bulan Mei kurva Corona harus diturunkan.

“Target kita di bulan Mei ini harus betul-betul tercapai sesuai dengan target yang kita berikan, yaitu kurvanya sudah harus turun. Dan masuk pada posisi sedang di Juni, di bulan Juli harus masuk posisi ringan. Dengan cara apa pun,” ujarnya dalam sidang kabinet.

Dari cara Presiden menyampaikan, terkesan ada nada frustrasi. Kalimat “dengan cara apapun,” mengingatkan kita pada kosa kata yang sering digunakan Jokowi, “pokoknya!”

Hanya saja nada dan maknanya berbeda. Kata “pokoknya” menunjukkan Jokowi punya power, dan perintahnya harus dilaksanakan.

“Dengan cara apapun” menunjukkan dia frustrasi dan tidak tahu bagaimana caranya.

Tak lama setelah itu muncul lah ajakan Jokowi untuk “Hidup berdamai dengan Corona.”

Istana kemudian terburu-buru memberi penjelasan. “Artinya jangan kita menyerah. Hidup berdamai itu penyesuaian baru dalam kehidupan,” kata Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin.

Penjelasan istana tampaknya tak mampu mengubah kesan yang ditangkap publik. Persepsi telah terbentuk.

Sejak awal rakyat sudah menyadari pemerintah kedodoran dan tak mampu menangani Covid-19. Mereka telah lebih dulu berdamai dengan realitas itu.

Secara psikologis, berubahnya sikap Jokowi dari semula menantang perang dan kemudian berubah mengajak damai, bisa didekati dengan teori Five Stages of Grief yang dikembangkan Elisabeth Kubler-Ross.

Dalam bukunya berjudul “On Death and Dying” (1969) Kubler-Ros ada lima tahapan ketika seseorang mengalami duka nestapa. Penolakan (denial) dan menarik diri, marah (anger), penawaran (bergaining), depresi (depression), dan penerimaan (acceptance).

Coba perhatikan ketika wabah Corona merebak. Jokowi dan para pejabat tinggi lainnya mati-matian menolak dan meremehkan. Mereka yakin Indonesia tidak akan terjangkit.

Tahap berikutnya marah, mengajak perang, minta kurva diturunkan apa pun caranya. Setelah itu menerima realita dan mengajak berdamai.

Sebagai Presiden, Jokowi juga manusia biasa. Dia juga bisa mengalami tekanan psikologi seperti itu.

Tapi karena Jokowi seorang Presiden dia tentu tetap punya strategi.

Dia tampaknya menerapkan sebuah peribahasa yang sangat terkenal: if you can’t beat them, join them.

Kalau kamu tidak bisa mengalahkannya, bergabunglah dengan musuhmu!

Masalahnya, kita kan tidak mungkin bergabung dengan Corona?

Satu-satunya cara ya berdamai.

Bagaimana caranya?

Pokoknya dengan cara apapun. Itu bukan urusan saya! end

Hersubeno Arief

Sumber: facebook Hersubeno Arief

Laman sebelumnya 1 2

Artikel Terkait

Back to top button